KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Google memanfaatkan momen World Emoji Day untuk membeberkan proses kreatif di balik Noto Emoji 3D. Seluruh koleksi emoji Android, dari wajah tersenyum hingga figur hewan, kini tampil dengan dimensi baru tanpa meninggalkan gaya ilustratif khas Google.
Dalam pernyataan resmi, Google menegaskan bahwa pendekatan desain emoji mereka selalu mengutamakan ekspresi di atas hiper-realisme. “Mereka perlu punya denyut dan jiwa — bukan presisi dingin model CAD industri,” tulis tim desain Google.
Contoh nyata ada pada emoji kanguru. Google mengakui bahwa hewan aslinya terlihat menyeramkan. “Kami tidak butuh kesempurnaan anatomi. Dengan kekuatan ilustrasi, kami bisa menangkap getaran main-main dari seekor kanguru,” jelas mereka.
Google mengaku menjalankan studi pengguna skala besar untuk mengevaluasi dampak perubahan emoji terhadap koneksi antarmanusia. Hasilnya, tiga “kebenaran universal” ditemukan:
Proses transformasi dari gambar 2D ke model 3D memaksa tim desain menjawab pertanyaan arsitektural yang sebelumnya tak terpikirkan. “Seperti apa bentuk belakang wajah smiley? Apakah itu topeng cekung, bola karet padat, atau selembar kertas datar?” tulis Google.
Setiap emoji 3D tetap dimulai dari gambar 2D sebelum dikonversi menjadi model tiga dimensi. Pendekatan ini memastikan karakteristik visual Google tidak hilang dalam proses dimensionalisasi.
Salah satu temuan teknis yang diungkap Google adalah kesulitan melihat emoji dengan warna kulit tergelap saat digunakan dalam mode gelap (dark mode). Untuk mengatasinya, Google membangun alat kontras berbasis kecerdasan buatan.
“Kami membangun alat kontras bertenaga AI yang menganalisis setiap emoji di level piksel, memberi tanda saat rasio kontras terlalu rendah, dan menyarankan solusi kontras tinggi yang kemudian diimplementasikan oleh desainer,” jelas Google.
Noto Emoji 3D akan mulai tersedia di perangkat Pixel pada akhir tahun ini. Setelah itu, secara bertahap akan menjangkau seluruh produk Google lainnya.
Semua karakter emoji dirilis sebagai model 3D open source dalam format file .OBJ. Artinya, pengembang dan desainer di Indonesia pun bisa mengunduh, memodifikasi, atau mengintegrasikan aset ini ke dalam proyek mereka tanpa biaya lisensi.