JAKARTA — Kekalahan ini menjadi antiklimaks bagi Prancis yang sebelumnya selalu menang dalam enam laga, mencetak 16 gol dan hanya kebobolan dua gol. Untuk pertama kalinya di turnamen ini, Les Bleus gagal mencetak gol dan justru kebobolan dua gol dalam satu pertandingan.
Pelatih Prancis Didier Deschamps mengakui timnya bermain dalam gaya yang tidak biasa. Sepak bola efisien yang menjadi ciri khas Les Bleus hilang karena terjebak dalam permainan ofensif yang justru lebih dikuasai Spanyol.
Para pemain Spanyol selalu cepat menutup ruang gerak Prancis begitu diserang, langsung mengganggu lawan saat kehilangan bola, dan melancarkan serangan vertikal yang lebih tajam dari biasanya. Barisan pertahanan Spanyol terbukti sama efektifnya dengan lini tengah dan depan mereka.
Sepanjang Piala Dunia 2026, Spanyol telah menciptakan total 120 peluang atau rata-rata 17 peluang per pertandingan — angka tertinggi di antara semua semifinalis. Catatan ini diraih setelah mereka mengalahkan tim-tim kelas atas seperti Uruguay, Portugal, Belgia, dan Prancis.
Kecuali saat menghadapi Tanjung Verde di laga pertama, Spanyol selalu mampu mengonversi dominasi penguasaan bola menjadi gol dan kemenangan. Meski untuk pertama kalinya penguasaan bola mereka turun di bawah 55 persen saat melawan Prancis, La Roja tetap menjadi tim teraktif dalam menciptakan peluang.
Kemenangan ini membawa Spanyol naik ke peringkat satu FIFA, menggeser Argentina yang sebelumnya berada di puncak. Sementara itu, kegagalan Kylian Mbappe mencetak gol membuka peluang bagi Lionel Messi untuk meraih Sepatu Emas.
Jika Inggris mengalahkan Argentina, maka Mbappe akan kembali bertarung langsung dengan Messi dalam laga perebutan tempat ketiga. Namun jika Messi gagal mencetak gol dan Jude Bellingham atau Harry Kane mencetak dua gol sambil membawa Inggris ke final, persaingan Sepatu Emas akan semakin ketat.
Spanyol sendiri memperpanjang catatan clean sheet menjadi enam kali setelah hanya kebobolan sekali pada perempatfinal melawan Belgia. Kolektivitas tinggi yang ditunjukkan tim asuhan Luis de la Fuente menjadi peringatan dini bagi calon lawan di final, baik Inggris maupun Argentina.