KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Knight mengaku merasa "sangat puas" setelah memutuskan gantung sepatu dari level internasional. Pemain berusia 33 tahun itu meninggalkan warisan gemilang sebagai salah satu kapten tersukses dalam sejarah kriket wanita Inggris.
Bersama Knight, Inggris meraih gelar Piala Dunia pada 2017 — momen yang menjadi titik balik popularitas kriket wanita di negeri Ratu Elizabeth. Ia juga memimpin tim meraih medali emas Commonwealth Games 2022 di Birmingham.
Keputusannya pensiun bukan karena cedera atau tekanan. "Saya benar-benar merasa puas," katanya dalam pernyataan resmi yang dikutip media Inggris.
Knight melakukan debut internasional pada 2010. Ia kemudian ditunjuk sebagai kapten timnas pada 2016 — saat usia barunya 25 tahun. Di bawah komandonya, Inggris menjelma menjadi kekuatan dominan di kriket wanita global.
Statistiknya bicara: lebih dari 4.000 run di ODI dan 1.500 run di T20I. Namun yang paling dikenang bukan angka, melainkan bagaimana ia membangun budaya tim yang inklusif dan agresif.
Knight tidak menyebutkan detail alasan spesifik di balik waktu pensiunnya. Namun ia menekankan bahwa keputusan ini sudah dipertimbangkan matang. "Ini waktu yang tepat untuk langkah selanjutnya," ujarnya.
Ia juga menyiratkan akan tetap terlibat di dunia kriket, meski tidak lagi berseragam Inggris. "Saya masih punya banyak cinta untuk olahraga ini," tambahnya.
Kepergian Knight meninggalkan lubang besar di skuad Inggris. Ia bukan hanya kapten, tapi juga pemain kunci di batting order. ECB (England and Wales Cricket Board) kini harus mencari suksesor yang mampu mengisi peran ganda: kepemimpinan dan performa lapangan.
Beberapa nama seperti Nat Sciver-Brunt dan Sophie Ecclestone disebut-sebut sebagai kandidat kuat kapten baru. Namun menggantikan sosok sebesar Knight bukan perkara mudah.
Artikel terkait di media Inggris menyebutkan bahwa warisan Knight "melampaui angka-angka" — sebuah pengakuan atas dampak kultural dan inspiratif yang ia tinggalkan untuk generasi pemain kriket wanita berikutnya.