Berpisah dengan orang tua di usia muda bukan perkara mudah. Namun, semangat meraih pendidikan yang lebih baik dan dukungan keluarga membuat para siswa mantap melangkah. Kirana, siswi asal SMP Negeri 1 Selat Nasik, Belitung, mengaku sedih harus jauh dari orang tua, tetapi terus mendapat dorongan untuk fokus belajar.
"Awalnya sedih karena harus jauh dari orang tua, tetapi mereka terus memberi semangat agar saya fokus belajar dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin," ujar Kirana yang bercita-cita menjadi guru. Putri seorang nelayan itu ingin memanfaatkan beasiswa untuk menambah wawasan dan mengembangkan diri.
Nindy Syahputri, lulusan MTsN Karimun, Kepulauan Riau, merasakan hal serupa. Anak dari seorang buruh bangunan itu melihat program beasiswa sebagai peluang besar meraih cita-citanya menjadi guru sekaligus membanggakan keluarga. "Orang tua selalu mendukung saya. Meski berat berpisah, mereka yakin ini jalan terbaik untuk masa depan saya," katanya.
M. Afiq Arsyad dari SMP Negeri 3 Rangsang, Kepulauan Meranti, menyebut program tersebut menjadi jawaban atas keterbatasan ekonomi keluarganya. Putra seorang petani itu bahkan baru pertama kali menaiki pesawat untuk mengikuti pendidikan di Pemali Boarding School. "Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar sebaik mungkin dan meraih prestasi," ujarnya.
Aqila Mumtaz, lulusan SMP Negeri 2 Pangkalpinang, mengaku bersyukur berhasil lolos setelah melalui serangkaian seleksi. Ia menargetkan melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada dan bercita-cita menjadi diplomat. "Bagi saya ini kesempatan emas untuk belajar dan mempersiapkan masa depan," ujarnya.
Program Kelas Beasiswa PT TIMAH menjadi wujud komitmen perusahaan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pelajar berprestasi dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas di lingkungan sekolah berasrama. Mereka dipersiapkan melanjutkan ke perguruan tinggi, sekaligus memutus rantai kemiskinan dari sektor pendidikan.