BANGKA BARAT — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya menggelar kontes durian sebagai ajang adu kualitas buah, tetapi juga menjadikannya momentum untuk mengangkat potensi desa wisata. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Babel, Wydia Kemala Sari, mengatakan bahwa Desa Pelangas dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian di daerah tersebut.
Desa Pelangas memiliki banyak kebun durian dan lahan "kelakak" — hutan kecil warisan leluhur yang ditanami berbagai jenis buah seperti durian, duku, manggis, dan cempedak. Bupati Bangka Barat, Markus, menyebut desa ini sudah ditetapkan sebagai desa kerukunan dengan tingkat toleransi tinggi, yang dinilai cocok untuk menjadi contoh desa wisata bagi daerah lain.
Kontes durian yang digelar Kamis lalu tidak berhenti pada penilaian varietas unggul. Rangkaian acara dilanjutkan dengan "nganggung durian" yang terbuka untuk umum, menyajikan durian khas Babel yang selama ini terkenal enak dan nikmat. "Pelangas yang memiliki banyak kebun durian ini potensial untuk terus dibantu agar sektor pariwisata semakin maju, melalui festival durian yang kita kombinasikan dengan kegiatan budaya 'nganggung' durian ini kita jadikan rangkaian kegiatan menjadi salah satu daya tarik wisatawan," ujar Wydia.
Pemprov Babel menyadari bahwa Malaysia berhasil mendatangkan wisatawan melalui durian musangking. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menilai Babel memiliki potensi lebih besar karena memiliki banyak varietas durian lokal unggul. "Kita berupaya agar ke depan banyak wisatawan datang ke Babel untuk menikmati durian," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel, Kurniawan, menjelaskan bahwa kontes ini diikuti 52 peserta dari seluruh kabupaten/kota di Babel. Juri yang didatangkan bersifat independen, terdiri dari kalangan akademisi, peneliti BRIN, praktisi durian nasional, dan ahli pengawas benih tanaman dari UPTD Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (PSMB). "Selama ini masih banyak durian lokal yang tersebar di berbagai pelosok desa yang potensial menjadi durian unggul namun belum mendapatkan kesempatan," kata Kurniawan.
Pemprov Babel juga menggandeng sejumlah pemengaruh atau influencer untuk membantu promosi melalui media sosial masing-masing. Langkah ini diambil agar potensi durian Babel semakin dikenal hingga ke mancanegara, tidak hanya di pasar nasional yang selama ini sudah cukup diminati.
Kelekak sebagai tradisi kearifan lokal masyarakat Babel turut menjadi nilai tambah. Melalui pola berkebun tradisional ini, leluhur mewariskan cara bercocok tanam ramah lingkungan yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan — dari tanaman buah, obat, hingga pohon pelindung untuk ketahanan pangan keluarga sekaligus menjaga kelestarian alam.