KOBA — Tren kasus gangguan payudara di Kabupaten Bangka Tengah menunjukkan peningkatan yang perlu diwaspadai. Sepanjang tahun 2025, RSUD Abu Hanifah mencatat 15 kasus, dan angka itu melonjak pada triwulan pertama 2026 dengan sembilan kasus baru yang sudah terdeteksi. Kondisi ini mendorong pihak rumah sakit untuk memperkuat edukasi deteksi dini kepada masyarakat, khususnya perempuan.
Direktur RSUD Abu Hanifah, dr Dianing Kiswari, mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi merasakan benjolan atau nyeri. Artinya, peluang untuk mendapatkan penanganan pada tahap awal menjadi lebih kecil.
"Jangan takut untuk memeriksakan diri. Semakin dini terdeteksi, penanganannya akan jauh lebih mudah, murah, dan peluang kesembuhannya lebih tinggi dibandingkan jika datang saat stadium lanjut," kata Dianing di Koba, Rabu.
Bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, RSUD Abu Hanifah akan merujuk mereka ke rumah sakit provinsi. Di sana, tersedia layanan dokter spesialis bedah onkologi yang menangani kasus sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Deteksi dini melalui SADARI dinilai sebagai langkah sederhana namun efektif. Dengan membiasakan pemeriksaan mandiri setiap bulan, perempuan dapat mengenali perubahan pada payudara sedini mungkin dan segera memeriksakan diri jika menemukan kelainan.
Manajemen rumah sakit berkomitmen untuk terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya SADARI. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pencegahan dan pengendalian penyakit melalui deteksi sejak dini.
"Kita terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya SADARI sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit melalui deteksi sejak dini," ujar Dianing.
Pemeriksaan payudara sendiri tidak membutuhkan biaya dan bisa dilakukan kapan saja. Dengan rutin melakukannya, perempuan bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatannya sendiri.