KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Moriyasu menilai tekanan yang dialami Hong Myung-Bo tidak sebanding dengan pencapaiannya sebagai legenda sepak bola Korea Selatan. Ia menyebut kritik pedas yang dilayangkan publik dan media Korea Selatan berlebihan.
Dalam pernyataannya, Moriyasu menekankan bahwa Hong adalah salah satu pemain terbaik Asia sepanjang masa. Pengalamannya sebagai bek tengah di Piala Dunia 2002, termasuk membawa Korea Selatan ke semifinal, menjadi alasan utama sang pelatih Jepang angkat bicara.
“Dia pejuang sejati. Saya tahu bagaimana rasanya berada di posisinya. Kritik seperti ini hanya akan menguji mentalitas seorang pelatih,” ujar Moriyasu dalam wawancara dengan media olahraga Jepang.
Hong Myung-Bo diangkat sebagai pelatih kepala pada 2024 dengan harapan tinggi. Namun, kegagalan Korea Selatan melewati fase grup Piala Dunia 2026 membuat posisinya goyah. Suporter dan pengamat sepak bola Korea ramai-ramai menuntut pengunduran dirinya.
Kritik paling tajam datang dari media lokal yang menyebut strategi Hong terlalu defensif dan gagal memaksimalkan potensi pemain bintang seperti Son Heung-min. Tekanan ini semakin besar mengingat Korea Selatan gagal meraih satu pun kemenangan di turnamen tersebut.
Moriyasu bukan satu-satunya pelatih yang membela Hong. Beberapa tokoh sepak bola Asia juga menilai bahwa membangun timnas butuh waktu lebih dari satu siklus turnamen. Mereka menganggap standar kesuksesan yang diterapkan di Korea Selatan terlalu instan.
“Kami semua di Asia saling memahami. Sepak bola bukan hanya soal hasil, tapi juga proses dan fondasi jangka panjang,” tambah Moriyasu.
Hingga berita ini diturunkan, Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) belum mengumumkan keputusan resmi terkait masa depan Hong. Beberapa sumber menyebut Hong masih memiliki sisa kontrak hingga akhir 2027, namun tekanan publik bisa mempercepat pergantian pelatih.
Piala Asia 2027 menjadi ajang pembuktian berikutnya bagi Hong. Jika kembali gagal, posisinya bisa benar-benar terancam. Namun, dukungan dari kolega seperti Moriyasu setidaknya memberikan sedikit ruang napas di tengah badai kritik.