KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — MSI memperbarui lini laptop profesionalnya lewat Prestige 16 AI+, yang kini mengusung desain lebih tipis dan layar OLED 2.8K 120Hz. Namun, pengujian selama dua pekan mengungkap sejumlah kelemahan signifikan dibandingkan model sebelumnya, Prestige 16 AI Evo.
Dengan dimensi 14 x 10 x 0,46–0,54 inci dan bobot hanya 3,5 pon (1,58 kg), Prestige 16 AI+ lebih ringan dari Dell XPS 16 (2026) dan Samsung Galaxy Book 6 Pro. Chassis aluminium abu-abu terasa premium dan nyaman digenggam.
Fitur paling menonjol adalah Action Touchpad yang bisa dikustomisasi. Double-tap pojok kiri atas membuka kalkulator, geser ke kiri/kanan di tepi atas untuk memundurkan atau memajukan video, dan geser naik/turun di sisi kiri untuk volume. Setelah terbiasa, touchpad ini mempercepat navigasi tanpa menyentuh keyboard.
Beralih dari panel IPS ke layar OLED 16 inci resolusi 2.8K (2880 x 1800) dengan refresh rate variabel 120Hz adalah keputusan tepat. Cakupan warna 100% DCI-P3 dan deep black membuat konten multimedia—dari spreadsheet hingga trailer film—tampak memukau. MSI juga menyertakan beberapa mode tampilan seperti True Color Display P3, sRGB, dan low blue light, yang berguna untuk editing foto dan video ringan.
Ditenagai Intel Core Ultra 7 355 (Panther Lake), RAM 32GB, dan SSD 1TB, laptop ini mampu membuka 30 tab Chrome sambil streaming video tanpa lag. Namun, hasil benchmark justru mengecewakan.
Masalah lain adalah suhu yang sangat panas. Saat hanya menjalankan menu utama Overwatch di pengaturan terendah, area keyboard deck terasa hampir terbakar. MSI membatasi daya adaptor ke 65W, sehingga Turbo Boost tidak bisa dioptimalkan. Untuk pekerjaan grafis berat atau gaming, laptop ini tidak disarankan.
MSI menghilangkan slot kartu SD yang sangat dibutuhkan fotografer dan videografer. Padahal, laptop ini dipasarkan untuk "business elites" dan pekerja kreatif. Port yang tersisa: 2x Thunderbolt 4 (USB-C) dengan Power Delivery dan DisplayPort, 2x USB-A 3.2 Gen 1, HDMI 2.1, dan jack 3,5 mm.
Daya tahan baterai juga menurun dibandingkan generasi sebelumnya, meski bahan artikel tidak menyebutkan angka spesifik. Hal ini membuat mobilitas jadi kurang optimal untuk penggunaan seharian penuh tanpa charger.
Harga sangat bervariasi tergantung pasar dan konfigurasi:
Untuk pengguna di Indonesia, belum ada informasi harga resmi. Namun, dengan estimasi kurs Rp16.500/USD, varian termurah di AS setara sekitar Rp29,7 juta, belum termasuk pajak dan bea masuk.
MSI Prestige 16 AI+ unggul di desain ramping dan layar OLED yang memanjakan mata. Touchpad cerdas juga menjadi nilai tambah untuk produktivitas. Namun, performa yang lebih rendah dari pendahulu, baterai lebih boros, panas berlebih, dan harga tinggi di AS membuatnya sulit direkomendasikan secara mutlak.
Siapa yang cocok? Profesional yang sangat mengutamakan portabilitas dan kualitas layar untuk pekerjaan ringan—bukan untuk rendering video atau gaming. Jika performa jadi prioritas, pertimbangkan MSI Stealth 16 AI+ (2026) dengan chip Intel Panther Lake yang lebih bertenaga, atau cukup cari varian Prestige 16 AI+ dengan prosesor Core Ultra X7 di harga $1.799.