Menkes Budi Gunadi Usulkan Penderita TBC Masuk Penerima Manfaat Program Makan Bergizi Gratis

Penulis: Hendrizal Satria  •  Selasa, 23 Juni 2026 | 17:42:31 WIB
Menkes Budi Gunadi mengusulkan penderita TBC menjadi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Usulan Menkes Budi Gunadi ini disampaikan dalam rapat koordinasi lintas kementerian pekan lalu. Menurutnya, penderita TBC membutuhkan asupan gizi yang optimal agar pengobatan berjalan efektif dan risiko resistensi obat bisa ditekan. Saat ini Indonesia menempati peringkat kedua kasus TBC tertinggi di dunia setelah India.

Rasional Medis di Balik Usulan Penderita TBC Masuk MBG

Dari sisi medis, pasien TBC mengalami penurunan berat badan drastis dan defisiensi imun. “Pemberian makanan bergizi bisa memperbaiki respons imun pasien sehingga bakteri Mycobacterium tuberculosis lebih cepat dibasmi,” kata Budi Gunadi dalam keterangan resmi kemarin. Ia menambahkan, durasi pengobatan TBC yang minimal enam bulan kerap membuat pasien drop out karena efek samping obat.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka keberhasilan pengobatan TBC nasional baru mencapai 82 persen. Target global yang ditetapkan WHO adalah 90 persen. Kesenjangan ini, menurut Budi, salah satunya disebabkan kondisi gizi buruk pada pasien.

Cakupan Penerima Manfaat Berpotensi Bertambah Jutaan Jiwa

Jika usulan ini disetujui, jumlah penerima program MBG akan bertambah signifikan. Kemenkes mencatat ada sekitar 1,06 juta kasus TBC yang dilaporkan pada 2024. Belum termasuk pasien yang tidak terdeteksi atau belum menjalani pengobatan.

Program MBG saat ini baru menjangkau 19,5 juta penerima di 38 provinsi. Pemerintah menargetkan 82,9 juta penerima pada 2029. Penambahan kategori penderita TBC akan menambah beban anggaran yang saat ini sudah mencapai Rp71 triliun per tahun.

Tahap Uji Coba dan Pembahasan Antarkementerian

Budi Gunadi mengusulkan agar pasien TBC yang menjalani pengobatan fase intensif dua bulan pertama mendapat prioritas. “Mereka yang paling rentan putus obat dan butuh intervensi gizi segera,” ujarnya. Badan Gizi Nasional selaku pelaksana program masih mengkaji aspek teknis dan anggaran.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan memfasilitasi rapat lanjutan pekan depan. Salah satu opsi yang dibahas adalah kerja sama dengan puskesmas untuk validasi data pasien. Pendistribusian makanan bisa dilakukan melalui fasilitas kesehatan, bukan hanya sekolah atau posyandu seperti skema saat ini.

Respons Pakar Gizi dan Epidemiolog

Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, menilai usulan ini tepat sasaran. “TBC dan malnutrisi membentuk lingkaran setan. Infeksi memperburuk gizi, gizi buruk memperparah infeksi,” katanya saat dihubungi. Namun ia mengingatkan agar logistik pendistribusian tidak tumpang tindih dengan program pemberian makanan tambahan dari Kemenkes.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto, mendukung perluasan sasaran MBG. “Tapi harus dipastikan menu yang diberikan sesuai standar gizi untuk pasien TBC, bukan sekadar karbohidrat dan protein biasa,” ujarnya. Ia merekomendasikan penambahan suplemen mikronutrien seperti vitamin D dan zinc.

Keputusan final masih menunggu persetujuan Presiden Prabowo Subianto. Menkes berharap usulan ini bisa mulai diimplementasikan pada kuartal II 2025 bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru dan perluasan cakupan MBG secara bertahap.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top