KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Rencana kerja sama ini difasilitasi langsung oleh Kementerian Pertahanan AS di tengah meningkatnya permintaan kapasitas produksi alat pertahanan. GM dan Lockheed Martin menandatangani nota kesepahaman (MOU) yang mencakup tiga area utama: peningkatan kesiapan produksi, penguatan rantai pasok, serta penerapan desain dan manufaktur canggih untuk efisiensi.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip CNBC, kolaborasi ini akan menyasar produksi amunisi dan manufaktur berkecepatan tinggi (high-rate manufacturing). Lockheed Martin mengalokasikan dana 9 miliar dolar AS hingga 2030 untuk memodernisasi 20 fasilitasnya, sementara GM menggelontorkan 7 miliar dolar AS untuk riset dan pengembangan di AS.
“Keamanan Amerika tidak hanya bergantung pada pengembangan teknologi canggih, tetapi pada kemampuan kita memproduksinya dengan cepat, andal, dan dalam skala besar,” ujar Chief Operating Officer Lockheed Martin Frank St. John.
Meski demikian, proyek konkret yang akan dikerjakan bersama masih dalam tahap awal identifikasi. “Dalam beberapa minggu ke depan, kami akan bekerja mengidentifikasi proyek-proyek awal untuk dikerjakan bersama,” kata Presiden GM Defense Steve duMont.
GM sebenarnya bukan pendatang baru di industri ini. Pada Perang Dunia II, pabrikan asal Detroit itu memproduksi tank untuk militer AS. Unit GM Defense sendiri diaktifkan kembali pada 2017 dan kini melayani pelanggan seperti Angkatan Darat AS, Secret Service, dan NASA.
“Yang membuat momen ini penting adalah negara membutuhkan lebih dari sekadar teknologi hebat. Negara juga butuh kapasitas untuk membangun, menskalakan, dan mengirim dengan andal. Di sinilah GM bisa membantu,” jelas Bruce Brown, Wakil Presiden Strategi di GM Defense.
Kemitraan ini muncul di tengah dorongan Presiden Donald Trump untuk memulangkan produksi ke dalam negeri (reshoring). Di sisi lain, stok pertahanan AS menipis akibat konflik di Ukraina dan Iran. Gedung Putih bahkan dikabarkan telah menggelar pembicaraan dengan GM dan Ford untuk mendukung industri pertahanan nasional.
Langkah GM ini mengikuti jejak Renault Group yang beberapa hari sebelumnya mengumumkan kemitraan dengan Thales untuk memproduksi drone tempur Toutatis. Pesaing utama GM, Ford, juga disebut-sebut telah masuk dalam radar sejumlah pemerintah di Eropa dan Amerika Utara untuk mendukung upaya pertahanan.