KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, dalam sambutan pembukanya menekankan bahwa makanan telah menjadi jembatan hubungan Indonesia-Tiongkok sejak era perdagangan rempah berabad-abad lalu. Ia menyebutkan bahwa angka perdagangan bilateral yang mencapai USD 167 miliar tahun lalu dan investasi USD 7,5 miliar merupakan hasil dari hubungan antarmasyarakat yang kuat, bukan sekadar transaksi ekonomi.
"Makanan merupakan jembatan penghubung dari tali penguat persahabatan tersebut," ujar Djauhari di hadapan mitra diplomatik, pengusaha, dan media yang hadir.
KBRI mendatangkan tiga chef dari jaringan hotel Hyatt di Jakarta: Ibnu Hajar dan Kiky Arie Morfi dari Grand Hyatt Jakarta serta Ari Aprianto dari Park Hyatt Jakarta. Mereka menyiapkan menu ikonik seperti rendang, sop konro, gudeg, ayam woku, bebek betutu, nasi goreng rendang, nasi lapola, gado-gado, tahu gejrot, asinan, hingga aneka jajanan seperti pisang goreng, kelepon, es teler, dan es cendol.
Ibnu Hajar, yang baru pertama kali ke Tiongkok, menyampaikan harapannya agar masyarakat Beijing menyukai hidangan yang disiapkan. Chef Luka dari Grand Hyatt Beijing menambahkan bahwa festival ini secara khusus ingin menampilkan keragaman cita rasa dari Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, hingga Maluku.
Pembukaan festival dimeriahkan pertunjukan musik kolaboratif antara gamelan dengan alat musik tradisional Tiongkok, erhu dan pipa, yang dipandu oleh Risnandar—guru musik gamelan di Central Conservatory of Music (CCOM). Lagu-lagu yang dibawakan meliputi Bengawan Solo, Ayo Mama, Ayam den Lapeh, Bungong Jeumpa, Sajojo, serta lagu Tiongkok populer Moulihua dan Yue Lian Dai Biao Wo de Xin.
Daphne Hsiao, General Manager Grand Hyatt Beijing, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini dan berharap festival semakin mempererat persahabatan Indonesia-Tiongkok.
Dalam kesempatan yang sama, KBRI Beijing juga mempromosikan produk-produk Indonesia yang telah menembus pasar Tiongkok, antara lain kopi luwak, kopi ijen, kopi kerinci, minuman yogurt, air kelapa, wafer, dan kerupuk. Festival ini menjadi ajang untuk memperkenalkan potensi ekspor kuliner Indonesia sekaligus memperkuat citra produk halal dan berkualitas di pasar Tiongkok.
Salah satu pengunjung, Chang Si Cong, mengaku semua makanan yang disajikan lezat dan kaya bumbu, dengan rendang sebagai favoritnya.
Festival ini merupakan bagian dari rangkaian diplomasi kuliner yang rutin digelar KBRI Beijing untuk menjaga momentum hubungan bilateral yang kian erat di bawah kemitraan komprehensif strategis Indonesia-Tiongkok.