KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM mencatat realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor minerba mencapai Rp48,95 triliun sepanjang Januari-April 2026. Angka ini naik dari Rp46,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dihitung hingga 15 Mei 2026, setoran bahkan sudah menembus Rp55 triliun.
Direktur Jenderal Minerba Tri Winarno menjelaskan, kenaikan ini tidak lepas dari harga mineral global yang sedang berada di puncak. Rata-rata Harga Mineral Acuan (HMA) tembaga tahun ini mencapai US$12.655 per dry metric ton (dmt), melonjak jauh dari US$9.819 per dmt pada 2025.
Komoditas lain juga tak kalah cemerlang. HMA perak rata-rata US$79,27 per troy ounce, lebih dari dua kali lipat dari tahun lalu yang hanya US$38,23. Sementara nikel naik ke US$16.822 per dmt dan timah melesat ke US$51.101 per ton.
"Hal ini secara langsung menaikkan nilai royalti dan iuran produksi yang diterima negara," ujar Pengamat Ekonomi INDEF, Ahmad Heri Firdaus, dalam keterangan resmi, Minggu (31/5).
Faktor kedua yang mendongkrak penerimaan adalah pembenahan tata kelola pertambangan. Pemerintah membentuk Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) melalui Perpres Nomor 5 Tahun 2025 untuk memberantas tambang dan kebun ilegal di kawasan hutan negara.
Hasilnya, pada awal Mei lalu, Satgas PKH melaporkan telah menyetorkan Rp10,27 triliun ke kas negara. Rinciannya, Rp3,43 triliun dari denda administrasi penguasaan kembali kawasan hutan dan Rp6,84 triliun dari pajak hasil tindak lanjut Satgas.
Heri menambahkan, "Ada pembenahan terkait pengawasan tata kelola pertambangan. Ini yang membuat setoran negara lebih optimal."
Di sisi hilir, pemerintah mencatat tiga smelter strategis telah rampung dan mulai beroperasi. Smelter nikel PT Aneka Tambang Tbk di Pomalaa, smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sulawesi, dan smelter tembaga PT Freeport Indonesia di JIIPE Gresik menjadi tulang punggung pengolahan mineral dalam negeri.
"Kehadiran smelter tembaga Freeport di Gresik menjadi tonggak penting untuk memperkuat kapasitas pemurnian konsentrat tembaga nasional," ujar Tri Winarno dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI.
Total ada 14 smelter terintegrasi dalam program hilirisasi mineral nasional, terdiri dari enam smelter nikel, enam bauksit, satu tembaga, dan satu besi. Lima di antaranya sudah selesai dibangun dengan total investasi US$7,8 miliar.
Dengan harga komoditas yang masih tinggi dan pengawasan yang semakin ketat, setoran negara dari sektor tambang diproyeksikan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun. Hilirisasi yang mulai berjalan juga diharapkan memperkuat ekonomi nasional dari sisi nilai tambah.