KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — IHSG turun sekitar 7,1% dari penutupan Senin (26/10) ke level 4.993 pada Jumat (30/10) pagi, setelah anjlok 3,49% sehari sebelumnya. Tekanan datang bukan hanya dari evaluasi MSCI, tetapi juga dari persoalan fiskal, kenaikan harga minyak, dan keluarnya dana asing. Investor asing mencatat jual bersih Rp 1,51 triliun di pasar reguler pada Kamis (29/10).
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investir Hendra Wardana menilai tekanan terhadap pasar domestik mencerminkan krisis kepercayaan, bukan sekadar koreksi valuasi. Sepanjang tahun berjalan, net sell asing sudah mencapai sekitar Rp 126 triliun.
"Persoalan utamanya bukan semata-mata valuasi saham yang turun, melainkan krisis kepercayaan yang membuat investor cenderung menahan pembelian dan memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia," ucap Hendra.
Rangkaian Pelemahan Sejak Awal Pekan
Pada Senin (26/10), IHSG ditutup melemah 1,22% ke level 5.373. Pelemahan berlanjut Selasa (27/10) dengan penurunan 1,99% ke posisi 5.266.
Rabu (28/10) indeks sempat menguat 0,31% ke level 5.282. Namun penguatan itu tidak berlanjut. Kamis (29/10), IHSG kembali anjlok 3,49% ke posisi 5.098.
Jumat (30/10) pagi, IHSG dibuka di level 5.066 dan sempat menyentuh 5.116. Indeks kemudian berbalik melemah hingga level terendah 4.979, sebelum tercatat turun 104,12 poin atau 2,04% ke 4.993.
Fiskal Jadi Sentimen Utama, Bukan MSCI
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata disebabkan sentimen MSCI. Persoalan fiskal dinilainya sebagai faktor paling utama yang membebani indeks.
"Memang yang paling utama adalah masalah fiskal. Masalah-masalah fiskal ini berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan," kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/10).
Kenaikan harga minyak dunia yang tembus US$101 turut meningkatkan kebutuhan dolar AS. Permintaan valas yang naik di tengah harga minyak tinggi mendorong arus modal asing keluar dari pasar keuangan domestik.
Batas Waktu Reformasi OJK hingga Juni 2027
Terkait evaluasi MSCI, Ibrahim menuturkan OJK masih memiliki waktu hingga Juni 2027 untuk melakukan pembenahan. Jika reformasi tidak berjalan sesuai harapan, pasar modal Indonesia berisiko turun dua tingkat menjadi pasar mandiri (standalone market).
"OJK itu diberi waktu cukup lama sebenarnya, bisa enggak melakukan perubahan reformasi? Kalau tidak, baru akan diturunkan," ujarnya.
Hendra menyebut ketidakpastian evaluasi MSCI, transparansi kepemilikan saham, kualitas tata kelola, dan kredibilitas mekanisme perdagangan menjadi hal yang dicermati investor. Mereka membutuhkan kepastian soal kewajaran pembentukan harga, keterlacakan struktur kepemilikan, serta likuiditas pasar.
Tekanan Global dan Tunggu Data Inflasi
Dari sisi eksternal, ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi itu mendorong pergeseran dana dari pasar negara berkembang ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan serangan besar-besaran terhadap Iran setelah pemilu 3 November juga memicu kekhawatiran pasar. Ketegangan geopolitik berpotensi mendorong harga minyak dan indeks dolar AS naik, yang kemudian menekan IHSG.
Pasar kini menunggu data inflasi. Jika inflasi tercatat tinggi, kondisi itu berpotensi menambah tekanan terhadap pasar modal. Hendra menilai rencana reformasi pasar modal belum cukup memulihkan kepercayaan apabila belum diterapkan konsisten, karena investor membutuhkan bukti pembenahan, keterbukaan informasi, penegakan aturan, dan kepastian kebijakan.