MENTOK — Tujuh kelenteng di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi lokasi gelaran Tradisi Sembahyang Rebut yang difasilitasi penuh oleh pemerintah daerah. Kegiatan tahunan warga keturunan Tionghoa ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat pekan ini.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, menyatakan fasilitasi ini merupakan wujud keseriusan pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan budaya lokal.
"Kita fasilitasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang ada di masyarakat sekaligus menggerakkan pembangunan sektor pariwisata," ujarnya di Mentok, Rabu.
Rangkaian Sembahyang Rebut di Tujuh Kelenteng
Pada hari pertama, Rabu, ritual berlangsung di empat lokasi: Kelenteng Bhakti Mulya Pelangas, Kelenteng Amal Bhakti Dusun Anyai, Kelenteng Lay Ngok Bakit, dan Kelenteng Sekarbiru. Keesokan harinya, Kamis, giliran Kelenteng Kung Fuk Miaw Mentok dan Kelenteng Bhakti Kelabat yang menggelar prosesi serupa.
Puncak rangkaian pada Jumat akan berlangsung di Kelenteng Fut Tet Khiung Dusun Tayu. Seluruh rangkaian ini merupakan agenda tahunan yang jatuh pada bulan ketujuh tanggal 15 penanggalan kalender China.
Makna Ritual dan Simbol Pembebasan Arwah Leluhur
Sembahyang Rebut memiliki makna spiritual mendalam bagi warga Tionghoa di Bangka Barat. Warga bersembahyang di kelenteng dengan tujuan mendoakan arwah leluhur yang berada di neraka agar bisa diangkat ke surga. Prosesi ini disimbolkan melalui pembakaran replika patung dalam rangkaian ritual.
Dalam perspektif pemajuan kebudayaan, tradisi ini dikategorikan sebagai ritus atau tata cara pelaksanaan upacara yang didasarkan pada nilai tertentu. Ritus ini dilakukan kelompok masyarakat secara terus-menerus dan diwariskan lintas generasi.
Harapan Pemkab: Kolaborasi Budaya dan Ekonomi Kreatif
Ferhad menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan kelompok masyarakat ini tidak hanya bertujuan melestarikan adat istiadat. Lebih dari itu, sinergi tersebut diharapkan mampu mengembangkan daya tarik wisata daerah.
"Pemerintah berupaya agar pelestarian budaya sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas daya tarik wisata, khususnya dari bidang kebudayaan," kata Ferhad.
Selain Sembahyang Rebut, Bangka Barat memiliki beragam ritus lain yang masih lestari, seperti sedekah bumi, sedekah gunung, tepung tawar, ceriak nerang, ceriak nelam, taber laot, sembahyang pendam, hingga rebo kasan. Keberagaman tradisi ini menjadi modal sosial sekaligus potensi ekonomi yang terus dijaga keberlangsungannya.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata optimistis dukungan terhadap tradisi lokal akan memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan kelenteng, terutama melalui kunjungan wisatawan saat perayaan berlangsung.