MENTOK — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Bangka Barat menegaskan bahwa perpustakaan desa harus bertransformasi menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Paradigma lama yang menempatkan perpustakaan hanya sebagai gudang buku dinilai sudah usang dan tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.
Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DPK Kabupaten Bangka Barat, Eka Octawianto, mengatakan pihaknya gencar memberikan pelatihan teknis kepada pengelola perpustakaan daerah, sekolah, hingga perpusdes. Pelatihan ini difokuskan pada kemampuan merancang layanan yang berbasis pada kebutuhan riil warga setempat.
Perpustakaan Bukan Lagi Sekadar Tempat Baca
Eka menjelaskan, transformasi yang digaungkan melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) ini mengubah total fungsi perpustakaan. Ruang yang tadinya sunyi dan statis itu kini diarahkan menjadi titik temu antara masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan komunitas.
"Para pengelola perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, dan perpusdes terus kita latih agar memiliki kemampuan teknis merancang layanan yang berbasis kebutuhan masyarakat," ujarnya di Mentok, Jumat.
Ia menambahkan, pengelola tidak hanya dituntut pandai menggunakan teknologi. Lebih dari itu, mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas jaringan informasi dan komunikasi demi meningkatkan kualitas layanan.
Menjawab Kebutuhan Anak Hingga Pelaku UMKM
Eka menekankan bahwa perpustakaan yang ideal adalah ruang tumbuh bagi semua lapisan masyarakat. Anak-anak bisa belajar, remaja mengembangkan kreativitas, dan masyarakat umum meningkatkan keterampilan diri.
"Perpustakaan harus menjadi ruang tumbuh masyarakat. Anak-anak dapat belajar, remaja mengembangkan kreativitas, masyarakat meningkatkan keterampilan, pelaku UMKM memperoleh informasi, dan komunitas dapat berkolaborasi. Semua itu dapat difasilitasi melalui perpustakaan," tambah dia.
Untuk mencapai target tersebut, pembinaan dan pendampingan berkelanjutan terus dilakukan. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung kemampuan pengelola dalam melakukan pemetaan kebutuhan masyarakat di sekitar lokasi perpustakaan.
Menghentikan Program Rutinitas Tanpa Dampak
Eka mengingatkan agar seluruh pengelola tidak terjebak pada kegiatan yang bersifat seremonial belaka. Program yang dijalankan harus lahir dari hasil pemetaan kebutuhan, bukan sekadar mengisi agenda tahunan.
"Jangan sampai kita membuat kegiatan hanya sekadar rutinitas," tegasnya.
Melalui pendekatan ini, DPK Bangka Barat berharap setiap perpustakaan di kabupaten tersebut mampu mengambil peran strategis dalam mendorong peningkatan kualitas hidup warganya. Keberadaan perpustakaan diharapkan tidak lagi menjadi pelengkap administrasi desa, melainkan aset berharga bagi pembangunan sumber daya manusia di Kepulauan Bangka Belitung.