JAKARTA — Kesepakatan strategis antara PT TIMAH Tbk dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) ditandatangani di Jakarta. Kerja sama ini menyasar pengolahan slag timah dan rare earth elements (REE/LTJ) yang selama ini belum memberikan nilai tambah optimal bagi negara.
Direktur Utama PT TIMAH, Restu Widiyantoro, dan Direktur Utama PERMINAS, Gilarsi Wahju Setijono, menandatangani nota kesepahaman bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka. Acara tersebut disaksikan langsung oleh Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, CTO Danantara Sigit Puji Santosa, dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.
Apa yang Membuat Kerja Sama Ini Berbeda?
Selama puluhan tahun, slag timah—limbah pengolahan timah—hanya menumpuk. Padahal, slag dan monasit mengandung mineral tanah jarang yang bernilai tinggi untuk industri pertahanan, elektronik, hingga energi hijau. Kini, kedua BUMN itu sepakat mengubah limbah jadi bahan baku strategis.
“Tantangan terbesar saat ini bukan hanya teknologi, tetapi juga aspek regulasi dan perizinan,” ujar Gilarsi Wahju Setijono. Ia menambahkan, kolaborasi ini menjadi langkah awal menuju pengolahan mineral strategis berbasis teknologi modern.
Nilai Tambah untuk Industri Nasional
Direktur Utama PT TIMAH, Restu Widiyantoro, menilai kerja sama ini membuka peluang perusahaan meningkatkan nilai tambah dari pengelolaan slag timah dan REE. “Potensi strategisnya sangat besar bagi industri nasional,” katanya.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa pengelolaan kekayaan mineral nasional harus diarahkan untuk kepentingan bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, CTO Danantara, Sigit Puji Santosa, menyebut sektor REE selama ini belum dimanfaatkan maksimal padahal memiliki nilai strategis tinggi.
Hilirisasi: Dari Bahan Mentah ke Produsen Global
Menteri Brian Yuliarto menambahkan, hilirisasi mineral strategis menjadi langkah penting agar Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah. “Kita harus mampu menjadi produsen mineral bernilai tambah tinggi di tingkat global,” tegasnya.
Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bagi industri pertambangan nasional. Dengan pengolahan slag dan rare earth, Bangka Belitung tak lagi sekadar pemasok timah mentah, melainkan pusat pengolahan mineral kritis yang bernilai strategis bagi ketahanan industri dalam negeri.