Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 25 poin ke level 6.941 pada perdagangan Senin (11/5/2026), melanjutkan tren negatif akhir pekan lalu. Namun, di tengah tekanan jual yang melanda mayoritas sektor, saham-saham sektor infrastruktur dan kesehatan justru mencatatkan lonjakan harga signifikan.
JAKARTA — Pasar modal Indonesia memulai pekan ini dengan nada negatif. IHSG dibuka tergerus 0,40 persen atau 25 poin ke posisi 6.941, seiring pelemahan yang terjadi di hampir seluruh bursa Asia. Tekanan jual terpantau menyasar enam sektor utama, mulai dari energi, material dasar, hingga keuangan.
Kondisi ini menjadi kelanjutan dari aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu. Jumat (8/5/2026), IHSG ambles hingga 204,92 poin (2,86%) dan ditutup di level 6.969. Data mencatat, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 389,31 miliar di seluruh pasar, dengan tekanan terbesar pada saham BMRI yang mencapai Rp 436,38 miliar.
Di Balik Koreksi: Sektor Tambang Terpukul Paling Parah
Kejatuhan indeks pada akhir pekan lalu dipicu oleh merosotnya saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), khususnya emiten tambang. Saham AMMN tercatat ambles 9,27%, disusul TINS yang melemah 14,88%, INDY turun 14,82%, dan INCO melemah 13,89%. BREN dan EMAS juga ikut terperosok masing-masing 11,83% dan 12,22%.
Pelemahan sektoral pun meluas. Sektor material dasar menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 7,80%, disusul sektor transportasi yang turun 5,72%, dan sektor energi yang melemah 4,59%. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan tipis 0,70%.
Saham FIRE dan MORA Justru Melambung, Ini Pemicunya
Meski mayoritas saham tertekan, sejumlah emiten kecil justru mencatatkan penguatan tajam. Saham FIRE melesat 25% ke level Rp 170, NIRO naik 19% menjadi Rp 238, dan MORA terbang 15% ke Rp 8.650. Di sektor kesehatan, aksi beli spekulatif mendorong saham MPOW naik 34,55% hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA). MEDS juga menguat 34,48%, sementara IRRA, PEHA, dan KAEF masing-masing mencatat kenaikan antara 24% hingga 25%.
Para analis menilai lonjakan ini lebih disebabkan oleh aksi bottom fishing investor ritel yang mencari keuntungan jangka pendek di tengah pelemahan IHSG. “Saham-saham dengan kapitalisasi kecil cenderung lebih volatil dan mudah terdorong naik saat likuiditas mengalir,” ujar seorang analis pasar modal yang enggan disebutkan namanya.
Apa yang Perlu Dicermati Investor Pekan Ini?
Tekanan jual asing yang masih berlanjut menjadi sinyal waspada bagi pasar. Sepanjang perdagangan Jumat lalu, tiga saham dengan net sell asing terbesar adalah BMRI (Rp 436,38 miliar), BUMI (Rp 82,88 miliar), dan TINS (Rp 76,45 miliar). Pola ini menunjukkan investor global masih melakukan aksi risk-off terhadap aset emerging market.
Di sisi lain, penguatan saham sektor kesehatan dan infrastruktur di tengah pelemahan IHSG membuka peluang bagi investor yang mencari diversifikasi. Namun, volatilitas tinggi masih akan menjadi tantangan utama dalam beberapa hari ke depan. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan sentimen global sebagai indikator tambahan.