PANGKAL PINANG — Kukang bangka pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 1906 sebagai primata bertubuh kecil dengan punggung kemerahan dan topeng wajah pucat. Setelah itu, spesies ini lenyap dari literatur sains selama hampir satu abad. Tidak ada catatan ilmiah yang mendokumentasikannya sejak 1930.
Padahal, di lapangan, primata bergerak lamban itu kerap muncul di halaman rumah warga, pinggir jalan, dan tempat-tempat yang mudah terlihat. Warga Bangka tidak pernah benar-benar melupakannya.
Penelitian bermula dari kunjungan Timon Glaw dari Kebun Binatang Haus des Meeres Aqua Terra, Wina, ke Taman Safari Prigen Conservation Breeding Ark di Jawa. Di sana, pakar konservasi Jochen Menner memberitahunya bahwa kukang bangka terdaftar sebagai spesies terancam punah kritis (kemungkinan punah) dalam Daftar Merah IUCN.
Spesies ini juga masuk daftar primata hilang paling dicari oleh Re:wild. Menner lalu menghubungkan Glaw dengan Alobi, yang ternyata menyimpan catatan pertemuan langsung dengan kukang bangka — data yang belum pernah masuk literatur ilmiah.
Temuan itu menyatukan Alobi, Haus des Meeres Aqua Terra, dan Taman Safari Prigen Conservation Breeding Ark untuk menganalisis catatan tersebut. Hasilnya diterbitkan di jurnal Spixiana, bertepatan dengan perayaan Bulan Spesies Hilang pada Oktober.
Alobi mencatat penyelamatan kukang bangka di keempat kabupaten di Pulau Bangka dan di Kota Pangkal Pinang. Sebaran itu mengindikasikan spesies tersebut mungkin masih hidup di sebagian besar wilayah pulau.
Dari lebih dari 90 ekor yang diselamatkan antara 2015 dan 2025, 86 ekor di antaranya telah pulih dan dilepasliarkan di tujuh lokasi. Tim Alobi memilih lokasi pelepasan dengan cermat, memprioritaskan fragmen hutan yang lebih luas dan masih memiliki perlindungan hukum atau praktis.
"Kami senang dapat berkontribusi pada catatan ilmiah untuk menunjukkan bahwa kukang bangka belum punah, namun spesies ini masih sangat terancam punah," kata Langka Sani, Direktur Pusat Penyelamatan Satwa Liar Alobi.
Sani menyebut habitat alami kukang bangka di Pulau Bangka telah menyusut signifikan akibat penambangan timah ilegal dan pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan sawit.
"Kami meminta masyarakat di seluruh dunia untuk mendukung kami dalam menyelamatkan kukang bangka selagi masih bisa," ujarnya.
Pulau Bangka sendiri dihuni lebih dari 1 juta manusia. Studi tersebut mencatat pemukiman, jalan raya, dan saluran listrik sebagai ancaman signifikan bagi spesies ini. Kukang juga menjadi sasaran perdagangan hewan peliharaan di seluruh wilayah sebarannya di Asia.
Para penulis studi merekomendasikan program konservasi yang melindungi habitat sesuai dan melanjutkan pelepasan yang dipantau sesuai pedoman Komisi Kelangsungan Hidup Spesies IUCN. Mereka juga mengusulkan program pembiakan konservasi untuk mempelajari biologi dan perilaku spesies.
"Mengembalikan kukang bangka ke dalam radar ilmiah hanyalah langkah pertama," tutur Glaw.
"Kami kini tahu bahwa spesies ini telah bertahan hidup di beberapa bagian Pulau Bangka, dan kami sangat membutuhkan strategi konservasi jangka panjang yang dibangun berdasarkan survei populasi, studi genetik, dan, yang terpenting, perlindungan habitatnya yang tersisa. Tantangan berikutnya adalah memastikan spesies ini tidak benar-benar punah," sambungnya.