PANGKALPINANG — BMKG melalui Stasiun Klimatologi Bangka Belitung menilai ancaman kekeringan belum sepenuhnya berlalu, sementara risiko banjir sudah mengintai begitu hujan turun. Dua kondisi itu muncul bersamaan akibat mundurnya awal musim hujan di wilayah kepulauan tersebut.
Pergeseran waktu hujan bukan sekadar soal tanggal. Dampaknya merembet ke ketersediaan air bersih, jadwal tanam petani, kualitas udara, sampai meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kering memanjang.
Rekomendasi BMKG menyentuh enam bidang sekaligus: pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kesehatan, dan kebencanaan. Tujuannya mendorong kesiapsiagaan pemerintah daerah bersama masyarakat menghadapi dampak perubahan musim.
Pada sektor sumber daya air, BMKG meminta pemanfaatan air hujan dan penambahan kapasitas penampungan di tingkat rumah tangga. Identifikasi lokasi cekungan air tanah dan titik yang memungkinkan dibangun sumur bor juga perlu dilakukan.
Wilayah yang bergantung pada air permukaan diminta memperhatikan sumber alternatif, termasuk kolong bekas tambang. Pemanfaatan kolong hanya boleh dilakukan sepanjang memenuhi syarat kualitas dan kelayakan penggunaan.
Ketidakpastian ketersediaan air berpotensi mengganggu waktu tanam dan menurunkan produktivitas tanaman. BMKG merekomendasikan petani menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi cuaca serta memilih varietas bersiklus tanam lebih pendek.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) juga perlu diperkuat. Penyesuaian ini diharapkan menekan risiko kerugian akibat waktu tanam yang tidak lagi selaras dengan ketersediaan air.
Di sektor energi, pengelolaan aliran masuk air, elevasi waduk, dan pelepasan air harus dilakukan proporsional. Langkah itu menopang operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) selama masa peralihan musim.
BMKG mengingatkan periode kering yang memanjang berisiko memperburuk kualitas udara dan meningkatkan potensi karhutla. Kewaspadaan diminta ditingkatkan terutama pada September hingga Oktober.
Rekomendasi juga mencakup penyiapan mekanisme respons ketika kualitas udara memburuk. Optimalisasi sirkulasi udara dalam ruangan diperlukan untuk menjaga kenyamanan dan mengendalikan kelembapan selama musim hujan.
Begitu hujan mulai turun, ancaman bergeser ke bencana hidrometeorologi. Banjir dan tanah longsor berpotensi muncul akibat curah hujan tinggi yang tidak diimbangi sistem drainase berfungsi optimal.
Optimalisasi sistem drainase, pemantauan wilayah rawan banjir, serta kesiapan jalur dan mekanisme evakuasi menjadi bagian penting pengurangan risiko bencana. Upaya itu perlu dilakukan pada awal maupun puncak musim hujan.
Warga diimbau tidak mengabaikan kondisi saluran air di lingkungan tempat tinggal. Drainase yang tersumbat sampah maupun sedimentasi memperlambat aliran air dan memperbesar risiko genangan saat hujan intensitas tinggi.
Pada sektor kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidasi perlu ditingkatkan. Langkah ini mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk yang dapat memicu kenaikan kasus demam berdarah dengue (DBD).
Fasilitas kesehatan juga diminta bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya penyakit terkait genangan air maupun banjir. Kesiapsiagaan tidak cukup dilakukan ketika hujan deras mulai mengguyur.
BMKG menegaskan upaya pencegahan sebaiknya dimulai sejak periode kering, meliputi menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sumber air, dan memperbaiki saluran drainase. Pemerintah daerah dan masyarakat dinilai perlu bergerak sebelum dampak perubahan musim terlanjur meluas.