KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Pemerintahan Donald Trump kembali mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran, dengan China sebagai target utama. Langkah ini dinilai sebagai eskalasi tekanan diplomatik yang secara langsung mengancam kepentingan energi Beijing, mengingat hampir seluruh pasokan minyak mentah Iran diserap oleh kilang-kilang di China.
Ketergantungan China pada minyak murah Iran membuat Negeri Tirai Bambu menjadi garda terdepan yang terdampak. Data menunjukkan lebih dari 80% ekspor minyak mentah Iran mengalir ke China, mayoritas dibeli oleh kilang independen swasta yang mengandalkan harga diskon untuk menjaga margin keuntungan.
Jika sanksi ditegakkan, Beijing dihadapkan pada dilema besar: mematuhi tekanan AS dan kehilangan sumber energi murah, atau melawan dan berisiko terkena sanksi finansial sekunder yang dapat memutus akses bank-bank China ke sistem keuangan global.
Ancaman sanksi ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral kedua negara. Bagi pasar komoditas, pengurangan pasokan dari Iran secara paksa akan mengurangi jumlah minyak yang beredar di pasar global, berpotensi mendorong harga minyak mentah naik lebih tinggi di saat OPEC+ masih menjaga kebijakan produksi ketat.
Kenaikan harga minyak ini menjadi sentimen negatif bagi negara importir seperti Indonesia. Tekanan biaya energi akan berdampak pada inflasi dan defisit neraca perdagangan, yang pada akhirnya berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah dan memicu aksi jual di pasar obligasi maupun pasar saham domestik.
Sejauh ini, Beijing belum memberikan respons resmi yang tegas, namun sinyal dari para pembeli swasta menunjukkan mereka enggan memutus kerja sama. Para trader menyebutkan bahwa pembatalan kontrak secara sepihak akan merugikan kilang independen yang sudah berinvestasi besar pada infrastruktur pemrosesan minyak berat Iran.
Di sisi lain, tekanan ini terjadi di tengah upaya China memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Global South. Kebijakan Washington dinilai kontraproduktif karena justru mendorong China untuk mempercepat transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal, menghindari dominasi dolar AS dalam perdagangan energi.
Pelaku pasar disarankan untuk memantau perkembangan negosiasi antara Washington dan Beijing. Indikator utama yang perlu diperhatikan adalah volume ekspor minyak Iran dalam beberapa pekan ke depan—apakah terjadi penurunan signifikan atau justru berjalan normal seperti biasa.
Selain itu, pergerakan harga minyak mentah acuan Brent dan WTI akan menjadi barometer sentimen risiko. Investor juga perlu mencermati respons bank-bank sentral di Asia, termasuk Bank Indonesia, dalam mengantisipasi potensi capital outflow akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Investasi mengandung risiko.