PANGKALPINANG — Perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih sering mencari informasi produk melalui platform digital seperti TikTok dan marketplace menjadi sinyal peringatan bagi UMKM di Bangka Belitung. Banyak pelaku usaha di provinsi ini yang masih mengandalkan metode pemasaran konvensional, sementara persaingan pasar semakin luas tanpa batas geografis.
Rendahnya literasi digital menjadi hambatan utama. Tidak sedikit pelaku usaha yang memandang digitalisasi hanya sekadar membuat akun media sosial atau membuka toko online. Padahal, transformasi digital membutuhkan pemahaman yang jauh lebih luas.
“Padahal, transformasi digital membutuhkan pemahaman yang lebih luas, mulai dari strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, pelayanan konsumen, hingga kemampuan membangun identitas merek atau branding,” tulis Devy Lestiawan dan Destri Yanti, mahasiswa Manajemen Universitas Bangka Belitung, dalam artikel yang dimuat Ayobangka.com.
Ironisnya, banyak produk UMKM di Bangka Belitung yang sebenarnya memiliki kualitas baik, namun kurang mampu menarik perhatian pasar. Lemahnya strategi promosi dan branding membuat produk lokal kalah bersaing dengan produk dari luar daerah yang lebih gencar beriklan secara digital.
Kondisi ini diperparah dengan perilaku konsumen yang telah berubah secara signifikan. Masyarakat kini lebih sering mencari informasi produk melalui media sosial dan platform video pendek. Kehadiran digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan utama dalam dunia usaha modern.
Berdasarkan analisis terhadap kondisi UMKM di daerah, setidaknya ada lima aspek yang perlu diperhatikan dalam transformasi digital:
Para pelaku UMKM di Bangka Belindung tidak perlu langsung melakukan transformasi besar-besaran. Mulai dari hal sederhana seperti mendaftarkan usaha di marketplace lokal, membuat konten promosi pendek di media sosial, hingga mengikuti pelatihan digital gratis yang sering digelar dinas terkait atau perguruan tinggi setempat.
Tanpa adaptasi terhadap perubahan teknologi dan pola konsumsi masyarakat, sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia ini berisiko tertinggal. Besarnya kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tidak akan berarti jika pelaku usaha tidak mampu menangkap peluang di era digital.