Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.844 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Data Domestik Jadi Beban

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:28:53 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp17.844 per dolar AS di tengah ketegangan Timur Tengah dan data domestik.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Mata uang Garuda dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Tekanan ini tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga merembet ke hampir seluruh mata uang Asia. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan yuan China juga tak luput dari tekanan.

Perang Dagang AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Penentu Arah

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik terang, serta data ekonomi domestik yang akan menjadi katalis pekan ini.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan. Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Penurunan harga minyak mentah global memang menjadi angin segar bagi negara importir minyak seperti Indonesia. Namun, sentimen itu belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah di tengah dominasi permintaan dolar AS yang tinggi.

BI: Kebutuhan Valas Musiman dan Arus Masuk Terbatas

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa tekanan terhadap rupiah selama sepekan terakhir tidak semata-mata berasal dari faktor global. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa kebutuhan dolar AS secara musiman ikut memperberat pergerakan rupiah.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).

Ia menambahkan, kebutuhan valas domestik meningkat signifikan untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan. Di sisi lain, arus masuk dolar AS ke pasar keuangan Indonesia masih terbatas, menciptakan ketimpangan pasokan yang menekan kurs.

Intervensi BI dan Proyeksi Pergerakan Hari Ini

BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar demi menjaga stabilitas rupiah. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Lukman Leong memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Artinya, level psikologis Rp17.800 sudah ditembus, dan pasar kini menunggu apakah intervensi BI mampu menahan pelemahan lebih lanjut menjelang rilis data inflasi besok.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top