JAKARTA — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta mengerahkan 21 unit mobil damkar untuk menjinakkan si jago merah di permukiman padat Krendang, Tambora, Jakarta Barat. Jumlah ini tergolong mobilisasi besar-besaran untuk standar penanganan kebakaran permukiman di ibu kota, di mana kebakaran rumah biasa biasanya hanya membutuhkan 3 hingga 5 unit damkar.
Pengerahan armada dalam jumlah besar bukan semata-mata karena luas area yang terbakar. Tantangan utama justru terletak pada karakteristik medan operasi yang ekstrem. Krendang adalah kawasan dengan kepadatan hunian sangat tinggi, di mana rumah-rumah berdiri berdempetan tanpa jarak aman, dan akses jalan hanya berupa gang-gang sempit.
Kondisi ini membuat api mudah merambat dan menyulitkan petugas untuk menjangkau titik api. Koordinasi evakuasi warga juga menjadi lebih intensif karena lebih banyak jiwa yang terancam dan perlu dipindahkan ke tempat aman.
Tambora merupakan salah satu kecamatan di Jakarta Barat yang permukimannya tumbuh secara organik. Pola hunian tanpa perencanaan yang memadai ini menciptakan risiko tinggi perambatan api secara cepat. Infrastruktur jalan yang sempit menjadi kendala utama bagi mobilitas kendaraan darurat.
Data dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta menunjukkan bahwa permukiman padat seperti Tambora memerlukan respons cepat dan mobilisasi sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan kebakaran di area dengan akses lebih baik. Insiden ini kembali menjadi pengingat akan urgensi penataan ulang permukiman padat di Jakarta.
Meskipun penyelidikan resmi masih dilakukan, dugaan sementara mengarah pada penyebab umum kebakaran di permukiman padat. Mulai dari korsleting listrik akibat instalasi yang sudah tua dan beban daya berlebih, hingga kelalaian penggunaan kompor gas atau lilin.
Di kawasan seperti Krendang, banyak rumah menggunakan kabel listrik berusia puluhan tahun dengan sambungan tidak resmi. Hal ini meningkatkan risiko korsleting secara signifikan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki sejumlah program penataan kampung, namun implementasinya kerap terhambat masalah relokasi dan resistensi warga. Dari perspektif manajemen bencana perkotaan, kawasan seperti Krendang membutuhkan pendekatan khusus: penyediaan hidran kebakaran yang memadai, pelebaran akses jalan untuk kendaraan darurat, dan sistem deteksi dini kebakaran berbasis komunitas.
Tanpa langkah konkret, permukiman padat di Jakarta Barat akan terus menjadi wilayah dengan risiko kebakaran tinggi yang mengancam keselamatan ribuan jiwa.