Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Terlemah dalam Sepekan di Tengah Tekanan Global

Penulis: Hendrizal Satria  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 10:02:01 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp17.503 per dolar AS di tengah penguatan dolar global.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Berdasarkan data Bloomberg pukul 9.45 WIB, rupiah terdepresiasi 89 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.503 per dolar AS. Posisi ini menjadi yang terendah dalam beberapa pekan terakhir, memperpanjang tren negatif sejak awal pekan. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sudah langsung melemah 75 poin ke Rp17.489.

Dolar AS Perkasa, Hampir Semua Mata Uang Asia Terkapar

Pelemahan rupiah bukan fenomena isolasi. Hampir seluruh mata uang regional kompak tertekan oleh penguatan dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang paling parah dengan anjlok 1 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,50 persen. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,22 persen, yen Jepang melemah 0,22 persen, dan dolar Singapura turun 0,20 persen. Yuan China juga ikut tertekan meski tipis 0,01 persen.

Dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mampu menguat 0,01 persen terhadap greenback. Di negara maju, euro, poundsterling, dan dolar Australia semuanya kompak melemah.

Tiga Sentimen Negatif Menekan Rupiah: Iran, Minyak, dan MSCI

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengidentifikasi setidaknya tiga faktor yang membuat rupiah terus terpuruk. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran kembali memicu ketidakpastian geopolitik. Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih bertengger tinggi menjadi beban tambahan bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

"Harga minyak yang tinggi jelas menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Ketiga, pengumuman MSCI yang dijadwalkan hari ini diperkirakan tidak akan memberikan kabar positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah," tambahnya. Investor asing yang wait-and-see pun semakin memperberat tekanan di pasar keuangan domestik.

Data Penjualan Ritel Jadi Harapan di Tengah Badai

Di tengah derasnya tekanan eksternal, pelaku pasar masih menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini. Data tersebut akan menjadi indikator terkini kekuatan daya beli masyarakat dan konsumsi domestik—satu-satunya motor pertumbuhan yang masih bisa diandalkan di tengah gejolak global.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Artinya, level Rp17.500 yang sudah tertembus pagi tadi masih mungkin menjadi resistance terdekat yang harus dihadapi rupiah. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level yang lebih dalam lagi.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top