KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Lompatan valuasi yang terjadi kurang dari setahun ini disebut-sebut sebagai yang tercepat dalam sejarah Y Combinator. Partner Y Combinator, Gustaf Alströmer, mengonfirmasi bahwa tidak ada startup lain dalam program akselerator tersebut yang berhasil mencapai status unicorn—sebutan untuk perusahaan rintisan bernilai di atas US$ 1 miliar—dalam waktu sesingkat ini.
Tangan dingin kedua pendiri yang masih berusia belasan tahun tersebut memang langsung menarik perhatian publik sejak awal. Mereka mengikuti kohort Winter 2025 Y Combinator saat perusahaan masih berstatus rintisan tahap awal dan baru memiliki produk sederhana.
Bisnis Melatih AI untuk Bekerja ala Profesional
SetelahQuery tidak beroperasi dengan cara yang sama seperti perusahaan pelatihan data pada umumnya. Berbeda dengan pendekatan yang fokus membuat model AI menjawab pertanyaan dengan akurat, AfterQuery justru mengajarkan model dan agen AI untuk menyelesaikan pekerjaan dengan pola pikir layaknya profesional berpengalaman.
Perusahaan menyebut pendekatan ini sebagai "encoding the patterns, decisions, and reasoning of the world’s best practitioners" atau proses menanamkan pola, keputusan, dan cara berpikir praktisi terbaik dunia ke dalam sistem AI. Para profesional seperti dokter, pengacara, hingga spesialis bidang tertentu dilibatkan untuk memberikan pelatihan khusus bagi model AI.
Metode ini berbeda dengan model bisnis Scale AI dan Mercor yang lebih dulu populer. Kedua kompetitor tersebut mengandalkan tenaga kerja untuk meningkatkan akurasi jawaban model, sementara AfterQuery fokus menjaga kualitas output AI saat diminta melakukan tugas kompleks seorang pakar.
Pendapatan Berjalan dan Daftar Pelanggan Sudah Mengkilap
Sejak putaran Seri A senilai US$ 30 juta pada April lalu yang menempatkan valuasi perusahaan di angka US$ 300 juta, AfterQuery dikabarkan telah mencapai pendapatan berjalan tahunan (annualized revenue run rate) sebesar US$ 100 juta. Capaian tersebut diraih dalam tempo yang cepat, menandakan permintaan besar dari laboratorium AI terkemuka.
Nama-nama besar seperti Nvidia, Legora, dan laboratorium AI asal Korea Selatan Motif Technologies sudah tercatat sebagai klien. Daftar pelanggan ini menjadi sinyal kuat bahwa teknologi pelatihan milik AfterQuery tidak sekadar menarik di atas kertas, melainkan memiliki nilai praktis yang dibutuhkan pemain utama industri.
Klaim sebagai startup dengan pertumbuhan valuasi tercepat di Y Combinator ini pertama kali dilaporkan oleh Forbes. Hingga artikel ini ditulis, pihak AfterQuery belum memberikan tanggapan resmi atas pemberitaan tersebut.
Can assist you with similar technology news coverage for your tech-savvy Indonesian audience? Let me know if you need a specific angle on how this development impacts the local AI job market or investment trends.