Pencarian

Karantina Babel Terapkan Pengawasan Berbasis Teknologi, Integrasikan SSMQC hingga CCTV di Ruang Pelayanan

Jumat, 28 Agustus 2026 • 14:48:31 WIB
Karantina Babel Terapkan Pengawasan Berbasis Teknologi, Integrasikan SSMQC hingga CCTV di Ruang Pelayanan
Petugas menunjukkan penerapan sistem pengawasan berbasis teknologi di ruang pelayanan Karantina Babel, Pangkalpinang, Jumat (…).

PANGKALPINANG — Kepala Karantina Babel, Herwintarti, menegaskan bahwa setiap aktivitas pelayanan kini meninggalkan jejak digital yang dapat ditelusuri kapan saja. Menurutnya, sistem ini menjadi kunci untuk memastikan akuntabilitas di tengah pelayanan publik yang rentan terhadap penyimpangan prosedur.

"Kita bukan sekadar mengikuti tren digital, tetapi memastikan bahwa setiap proses kerja bisa dipantau, dievaluasi, dan dipertanggungjawabkan secara terbuka," ujar Herwintarti di Pangkalpinang, Jumat.

Integrasi SSMQC dan Aplikasi "Best Trust"

Penerapan SSMQC (Single Submission Manajemen Quarantine Compliance) menjadi tulang punggung sistem baru ini. Sistem tersebut berfungsi sebagai alat kontrol kepatuhan yang memastikan setiap permohonan, pemeriksaan, hingga tindakan karantina tercatat dan terverifikasi secara sistematis.

"Tidak ada lagi proses yang berjalan di luar sistem," kata Herwintarti menegaskan.

Selain SSMQC, Karantina Babel mendorong konsep less paper melalui aplikasi "best trust". Aplikasi ini memperkuat kontrol layanan secara real time dan melengkapi pengawasan yang sudah berjalan.

CCTV di Ruang Pelayanan untuk Evaluasi Petugas

Penggunaan kamera pengawas atau CCTV di ruang pelayanan menjadi bagian dari pengawasan modern yang diterapkan. Kamera tidak hanya dipasang sebagai formalitas, melainkan sebagai alat monitoring dan evaluasi bagi pimpinan.

Melalui CCTV, pimpinan dapat melihat kondisi pelayanan secara langsung, mengevaluasi interaksi antara petugas dan pengguna jasa, serta memastikan tidak ada penyimpangan prosedur. Herwintarti menyebut langkah ini sebagai upaya mendukung pelayanan yang terukur dan responsif sesuai SOP.

Dari Kepercayaan Menuju Pengawasan Berbasis Data

Herwintarti menjelaskan bahwa arah kebijakan ini menandai perubahan fundamental dari pengawasan berbasis kepercayaan semata menuju pengawasan berbasis data dan bukti nyata. Setiap aktivitas kini meninggalkan jejak digital yang bisa ditelusuri.

"Dampaknya bukan hanya efisiensi, tetapi juga transparansi," ujarnya.

Dokumen digital dinilai lebih mudah ditelusuri, lebih cepat diproses, dan mengurangi risiko kehilangan atau manipulasi data. Pendekatan ini sekaligus mengubah cara kerja internal menjadi lebih efisien dan terdokumentasi dengan baik.

Follow belitungterkini.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: babel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks