Kementan Jajaki Ekspor Hortikultura ke China via AGRINEX 2026

Penulis: Hendrizal Satria  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 13:24:01 WIB
Direktur Hilirisasi Hortikultura Freddy Lumban Gaol berdiskusi dengan eksportir buah segar Ella di sela AGRINEX 2026 di Jakarta Convention Center.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian membuka jalur ekspor buah tropis Indonesia ke China lewat ajang AGRINEX 2026 di Jakarta Convention Center. Penjajakan dilakukan bersama eksportir buah segar yang menekankan pemenuhan syarat registrasi dan karantina GACC sebagai pintu masuk pasar Tiongkok. Peluang ini menyasar komoditas seperti mangga, salak, manggis, dan durian dari 13 kabupaten binaan program HDDAP.

Direktur Hilirisasi Hortikultura, Freddy Lumban Gaol, berdiskusi langsung dengan Ella, eksportir buah-buahan segar ke China, di sela acara yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Pertemuan itu membahas kesiapan produk hortikultura nasional menembus pasar Tiongkok, termasuk hambatan teknis yang harus diselesaikan lebih dulu.

Menurut Freddy, pemerintah terus membuka peluang pasar ekspor yang lebih luas bagi produk hortikultura, khususnya buah-buahan. Optimisme itu bertumpu pada permintaan buah tropis unggulan yang dinilai semakin diminati konsumen global.

"Buah-buahan kita ini memiliki potensi yang sangat besar, ya. Apalagi buah tropis unggulan semakin diminati konsumen global. Melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kualitas produk, dan pemenuhan standar pasar internasional, kami optimistis buah Indonesia mampu meningkatkan daya saing dan memberikan nilai tambah bagi petani serta pelaku usaha hortikultura," ujar Freddy dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).

Syarat Registrasi dan Karantina Jadi Penentu di Pasar Tiongkok

Ella menilai buah-buahan Indonesia punya daya saing di pasar China, terutama dari sisi cita rasa dan penampilan. Namun keduanya belum cukup tanpa pemenuhan persyaratan negara tujuan.

"Cita rasa dan penampilan itu penting. Namun, untuk ekspor ke Tiongkok memerlukan pemenuhan persyaratan negara tujuan, termasuk ketentuan registrasi dan persyaratan karantina yang berlaku, dengan memperhatikan ketentuan General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC)," tegas Ella.

Aturan GACC menjadi rujukan wajib bagi eksportir yang ingin mengirim buah segar ke Tiongkok. Kepatuhan pada ketentuan registrasi dan karantina menentukan apakah suatu komoditas bisa lolos masuk atau tertahan di perbatasan.

Konsolidasi Pasokan dari Berbagai Daerah Jadi Tantangan

Freddy menjelaskan salah satu kendala yang dihadapi eksportir adalah mengonsolidasikan pasokan dari berbagai wilayah Indonesia agar kualitas dan volume produk sesuai kebutuhan pasar. Pasokan yang tersebar di banyak daerah kerap menyulitkan pemenuhan kontrak ekspor dalam jumlah besar dan standar seragam.

Ditjen Hortikultura akan menindaklanjuti peluang kerja sama melalui koordinasi terkait standar mutu yang dibutuhkan pasar serta kesiapan produksi petani. Pendekatan ini menyambungkan permintaan eksportir dengan kapasitas produksi di tingkat kebun.

"Upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ekspor ini didukung melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project atau HDDAP, yang mengembangkan 14 komoditas di 13 kabupaten. Ada mangga, salak, manggis, hingga durian. Program ini mendorong penerapan praktik pertanian yang baik, peningkatan penanganan pascapanen, serta penguatan kelembagaan ekonomi petani agar mampu menghasilkan produk berkualitas dan memenuhi kebutuhan pasar ekspor secara berkelanjutan," jelas Freddy.

Komoditas yang Disiapkan untuk Pasar Ekspor

  • Mangga
  • Salak
  • Manggis
  • Durian

Empat komoditas itu termasuk dalam 14 komoditas yang dikembangkan program HDDAP di 13 kabupaten. Fokus program mencakup praktik pertanian yang baik, penanganan pascapanen, dan penguatan kelembagaan ekonomi petani.

Rantai Pasok Hulu-Hilir Jadi Kunci Daya Saing

Partisipasi dalam AGRINEX 2026 diarahkan untuk mendorong sinergi antara pemerintah, petani, kelembagaan ekonomi petani, pelaku usaha, dan eksportir. Sinergi itu diperlukan agar rantai pasok hortikultura dari hulu hingga hilir berjalan konsisten.

Pertemuan dengan eksportir juga menjadi langkah menjajaki kemitraan yang menghubungkan kebutuhan pasar dengan potensi produksi petani binaan HDDAP. Bagi pelaku usaha hortikultura, kepastian pasokan dan mutu menjadi faktor penentu sebelum kontrak ekspor ditandatangani.

Dengan dukungan produksi yang konsisten, penanganan pascapanen yang baik, hilirisasi, serta akses pasar yang lebih luas, produk hortikultura Indonesia diharapkan semakin berdaya saing. Nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha menjadi ukuran akhir dari terbukanya pasar Tiongkok.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top