PANGKALPINANG — KWT Pandan Sari mengelola hasil panen dengan dua cara: membagikan kepada masyarakat sekitar dan menjual sebagian produksi. Pendapatan dari penjualan sayuran dimasukkan ke kas kelompok untuk membeli bibit baru, sehingga kegiatan budidaya tetap berjalan dari bulan ke bulan.
Dessy Ayutrisna menilai kegiatan pertanian yang dijalankan kelompok perempuan itu dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang penambahan penghasilan bagi keluarga.
"Tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sayuran bagi keluarga dan masyarakat sekitar, hasil budidaya juga dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan tambahan," kata Dessy.
Setiap bulan, sekitar 50 kilogram sawi putih keriting dipanen dari lahan yang dikelola anggota KWT Pandan Sari. Sebagian hasil dibagikan gratis ke warga, sebagian lagi dijual.
Pola itu membuat manfaat panen terasa langsung di lingkungan sekitar. Sisi lain, penjualan menjaga keberlanjutan kelompok karena kas yang terkumpul dipakai membeli bibit untuk siklus tanam berikutnya.
Dessy berharap keberhasilan KWT Pandan Sari menjadi contoh bagi kelompok wanita tani lain di Pangkalpinang. Ia juga meminta perangkat daerah terkait mendukung kegiatan kelompok, antara lain melalui penyediaan bibit tanaman.
"Mudah-mudahan nanti ini bisa menjadi penghasilan buat Ibu-Ibu. Saya juga menunggu Ibu-Ibu berinovasi lagi di tempat lain," ujar Dessy.
Selain sawi putih keriting, sejumlah kelompok wanita tani di Pangkalpinang mengembangkan sayuran lain seperti selada dan seledri. Kegiatan itu menjadi bagian dari pemanfaatan lahan perkotaan agar lebih produktif.
Pangkalpinang kini memiliki 23 kelompok wanita tani. Pemerintah berharap jumlah kelompok yang aktif dan berkembang bertambah hingga menjangkau seluruh 42 kelurahan di kota tersebut.