KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Manchester United membatalkan 685 tiket musiman untuk musim 2026 setelah investigasi internal menemukan bukti penjualan kembali di pasar sekunder. Kebijakan ini memicu protes kelompok suporter yang menilai manajemen klub semakin mengabaikan pendukung setia.
Old Trafford menjadi saksi ketegangan baru antara manajemen Manchester United dan basis pendukungnya. Investigasi klub menemukan ratusan tiket musiman dijual kembali melalui platform pihak ketiga, pelanggaran yang berujung pada pembatalan massal.
Manchester United menyatakan praktik jual beli tiket di pasar sekunder "merusak akses yang adil bagi suporter sejati dan tidak punya tempat di Manchester United". Kelompok suporter merespons dengan kecaman keras terhadap kepemilikan klub.
Kelompok pendukung Manchester United kembali menggelar aksi protes terhadap kebijakan pemilik klub. Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan ketidakpuasan terhadap manajemen yang dianggap tidak menghargai kesetiaan pendukung jangka panjang.
"Cara kalian memperlakukan kami adalah hal yang memalukan," demikian bunyi pernyataan kelompok suporter tersebut.
Ketegangan ini bukan pertama kali terjadi. Hubungan antara suporter dan manajemen klub terus memanas seiring kebijakan komersial yang dinilai mengesampingkan kepentingan pendukung lokal.
Langkah Manchester United sejalan dengan tren yang melanda klub-klub Liga Primer Inggris. Arsenal telah menskors hampir 74.000 akun klub sejak memulai penindakan pada 2024.
Chelsea menjadi klub terbaru yang mewajibkan tingkat kehadiran minimum bagi pemegang tiket musiman. Kegagalan memenuhi syarat tersebut berakibat pada kehilangan hak perpanjangan tiket musim berikutnya.
Bournemouth memindahkan 600 pemegang tiket musiman untuk memberi ruang bagi kursi hospitality baru. Sebanyak 14 dari 20 klub Liga Primer menaikkan harga tiket musiman pada musim ini.
Dominik Schreyer, profesor ekonomi olahraga di WHU Otto Beisheim School of Management, Düsseldorf, menjelaskan bahwa tiket musiman memiliki konsekuensi ekonomi bagi klub.
"Di Liga Primer, permintaan jauh melebihi pasokan kursi," kata Schreyer. "Pemegang tiket musiman mendapat kursi diskon. Mereka juga lebih cenderung tidak hadir. Saat datang, mereka belanja lebih sedikit untuk makanan dan merchandise, serta tiba lebih lambat di stadion."
Schreyer menambahkan bahwa pemegang tiket musiman tidak mudah melepaskan tiketnya karena kelangkaan. "Setiap tahun usia rata-rata pemegang tiket naik satu tahun karena tidak ada orang baru yang mendapat tiket. Jadi bagi klub, ada banyak masalah ekonomi dari pemegang tiket musiman."
Namun, Schreyer juga mengingatkan sisi lain yang tak bisa diabaikan. "Yang tidak boleh kita lupakan adalah pemegang tiket musiman adalah bagian dari produk yang dipasarkan ke audiens global. Mereka menciptakan atmosfer. Mereka juga terbiasa dengan semua aturan, ritual, dan nyanyian, momen-momen yang membuat pengalaman ini sangat istimewa."
Di Liga Primer, rata-rata tiket musiman mencapai 75% dari total tiket yang tersedia di setiap pertandingan. Angka ini menunjukkan betapa dominannya kelompok pemegang tiket musiman dalam komposisi penonton.
Asosiasi Suporter Sepak Bola Inggris menilai perilaku klub saat ini menunjukkan antagonisme terhadap pemegang tiket musiman. Juru bicara FSA menyatakan ada kesan dari kelompok suporter di klub-klub tersukses bahwa eksekutif dan pemilik klub tidak sepenuhnya menghargai pemegang tiket musiman.
"Mereka yang hanya mengukur segalanya dari laba melihat pemegang tiket musiman sebagai kelompok yang pengeluaran hari pertandingannya lebih rendah dibandingkan penggemar sekali setahun yang akan memenuhi tas mereka di toko klub dan membayar premi lebih besar untuk tiketnya. Itu visi yang picik," ujar juru bicara FSA.
Kekhawatiran bahwa klub ingin menukar pendukung lama dengan turis sekali datang menjadi inti ketakutan banyak penggemar. Seorang pendukung Liverpool dalam sebuah podcast awal musim ini menyatakan keyakinannya bahwa klub besar akan segera mencoba menghapus tiket musiman sepenuhnya. Klip tersebut viral di media sosial.
Dokumen yang dikenal sebagai "tiket musiman sepak bola tertua di dunia" menjanjikan akses ke setiap pertandingan kandang Burnley musim 1884-85. Tiket itu mendahului Football League selama empat tahun, dengan semua pertandingan dimainkan melawan tetangga Lancashire timur.
Pada tiket tersebut tercantum peringatan tegas: "Kartu ini tidak dapat dipindahtangankan. Anggota mana pun yang melanggar aturan ini akan segera dikeluarkan dari klub." Hampir 150 tahun setelah penggemar mulai membayar di muka untuk menonton tim mereka, tiket musiman tetap menjadi komponen kunci dalam kesuksesan sepak bola Inggris, sekaligus sumber konflik abadi antara suporter dan klub.