Baterai Nusantara: Indonesia-Malaysia Kerja Sama Bangun Ekosistem Baterai EV ASEAN

Penulis: Hendrizal Satria  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:23:01 WIB
Evvy Kartini memaparkan kerja sama Indonesia-Malaysia dalam proyek Baterai Nusantara di Jakarta, Rabu (26/8).

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kerja sama lintas negara ini diungkapkan langsung oleh Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, di Jakarta, Rabu (26/8). Menurutnya, proyek ini bukan hanya soal produksi, melainkan fondasi awal membangun rantai pasok baterai yang mandiri di Asia Tenggara.

"Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai," jelas Evvy dalam pernyataan yang melansir Antara.

Skema Produksi: Material dari Indonesia, Sel Baterai dari Malaysia

Dalam proyek Baterai Nusantara, bahan baku yang telah diolah di Indonesia akan dikirim ke Malaysia untuk diproses menjadi sel baterai siap pakai. Hasil inovasi awal dari kolaborasi ini bahkan sudah diperkenalkan secara resmi di Malaysia bersama kementerian terkait setempat.

Evvy menegaskan bahwa target utama dari kemitraan ini adalah memutus ketergantungan kawasan terhadap impor baterai dari luar ASEAN.

"Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri," ucapnya.

Pilot Plant Jadi Syarat Utama Indonesia Naik Kelas

Di tengah potensi pasar kendaraan listrik ASEAN yang besar, Evvy menyoroti satu kebutuhan mendesak bagi Indonesia: kehadiran fasilitas pilot plant. Ia menilai fasilitas uji coba ini adalah jembatan krusial antara riset bahan baku di laboratorium dan produksi massal komersial.

"Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana," kata Evvy.

Dengan adanya fasilitas pengujian tersebut, hasil riset dalam negeri bisa dikaji dalam skala lebih luas sebelum masuk tahap industrialisasi. Indonesia pun disebut dapat menyerap teknologi komersial dari mitra untuk dikembangkan kembali melalui riset lokal.

Integrasi Riset dan Pasar demi Kemandirian Baterai ASEAN

Pendekatan integratif ini dinilai krusial agar Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Target akhirnya adalah kemampuan memproduksi sel baterai kendaraan listrik secara mandiri di dalam negeri.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menggabungkan kekuatan sumber daya mineral, kapasitas riset, dan besarnya pasar antarnegara. Jika berjalan sesuai rencana, ASEAN berpotensi menjadi pusat pengembangan teknologi baterai mandiri yang tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar kawasan.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top