KOBA — Lonjakan kebakaran hutan dan lahan di Bangka Tengah terjadi pada dua bulan terakhir. Kepala BPBD Bangka Tengah Yudhi Sabara mengungkapkan, dari total 110 kejadian karhutla yang tercatat hingga 21 Agustus 2026, penambahan kasus terbanyak terjadi pada periode Juli hingga Agustus.
"Memang peningkatannya cukup tinggi terjadi pada Juli hingga Agustus," kata Yudhi di Koba, Sabtu (22/8).
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Bangka Tengah menunjukkan, hingga akhir Juni 2026 tercatat 81 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak 146 hektare. Angka tersebut bertambah signifikan menjadi 110 kejadian dengan total luas lahan terdampak 178,92 hektare pada 21 Agustus.
Artinya, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, terjadi penambahan 29 kejadian karhutla dan 32,92 hektare lahan yang terbakar. Kondisi ini menggambarkan tingginya potensi kebakaran saat musim kemarau melanda wilayah penghasil timah tersebut.
Yudhi menegaskan pihaknya bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap potensi karhutla di sejumlah wilayah. Langkah ini diambil untuk mencegah api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.
Selain karhutla, Pusdalops BPBD Bangka Tengah juga mencatat sejumlah bencana lain sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Tercatat 20 kejadian angin kencang, 11 banjir, dua banjir rob, dan tiga kekeringan melanda wilayah tersebut.
Bencana nonalam yang turut tercatat meliputi tiga kebakaran rumah, dua kecelakaan mobil, satu pohon tumbang, satu kejadian tersambar petir, serta dua kecelakaan kapal. Secara keseluruhan, jumlah bencana di Bangka Tengah mencapai 154 kejadian selama periode delapan bulan terakhir.
Dampak akumulatif dari seluruh bencana tersebut dirasakan langsung oleh 790 orang. Kerusakan fisik tercatat pada 24 bangunan dan 255 rumah warga yang tersebar di sejumlah kecamatan di Bangka Tengah.