Ekonomi Belitung Timur Tumbuh 4,30 Persen pada 2025, tapi Kemiskinan dan Pengangguran Justru Ikut Naik

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 14:19:01 WIB
Ekonomi Belitung Timur tumbuh 4,30 persen pada 2025, namun jumlah penduduk miskin meningkat dari 8.500 menjadi 9.040 orang.

BELITUNG TIMUR — Kebangkitan ekonomi Belitung Timur pada 2025 masih menyisakan pekerjaan rumah besar di sektor sosial. Setelah tumbuh 4,30 persen, jumlah penduduk miskin justru bertambah dari 8.500 orang pada 2024 menjadi 9.040 orang pada 2025.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena jarak rata-rata penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin lebar. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) melonjak dari 0,64 menjadi 1,35, dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) meningkat dari 0,15 menjadi 0,35.

Pertumbuhan PDRB Tak Diikuti Perbaikan Kesejahteraan

Secara makro, perekonomian Belitung Timur menunjukkan perbaikan signifikan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) meningkat dari Rp10,97 triliun pada 2024 menjadi Rp11,98 triliun pada 2025, atau naik sekitar 9,17 persen.

Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) naik dari Rp6,21 triliun menjadi Rp6,47 triliun. Beberapa sektor mencatat pertumbuhan tinggi, seperti pertambangan dan penggalian yang tumbuh 8,52 persen serta informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,07 persen.

Namun pertumbuhan tersebut belum berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) justru turun dari 70,56 persen pada 2024 menjadi 69,10 persen pada 2025.

Mengapa Pengangguran Naik Saat Ekonomi Tumbuh?

Ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan pasar kerja ini menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi yang meningkat belum sepenuhnya dinikmati masyarakat. Konsumsi rumah tangga yang menjadi komponen terbesar PDRB justru mengalami penurunan kontribusi, dari 53,46 persen pada 2024 menjadi 51,69 persen pada 2025.

Konsumsi pemerintah juga turun kontribusinya dari 12,28 persen menjadi 10,88 persen. Sebaliknya, net ekspor melonjak dari 4,62 persen menjadi 9,09 persen, menunjukkan aktivitas ekonomi lebih ditopang oleh penguatan ekspor neto dibandingkan daya beli domestik.

PDRB per Kapita Naik, tapi Garis Kemiskinan Ikut Meningkat

PDRB per kapita Belitung Timur memang naik dari sekitar Rp82,60 juta menjadi Rp89,14 juta pada 2025. Namun indikator ini tidak mencerminkan pemerataan kesejahteraan, sebab pada tahun yang sama garis kemiskinan ikut naik dari Rp907.577 menjadi Rp925.729 per kapita per bulan.

Pemkab Belitung Timur mencatat adanya kecenderungan peningkatan konsumsi rumah tangga, tetapi pendapatan masyarakat belum mampu mengimbangi tekanan tersebut. Kondisi pariwisata yang belum stabil disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perekonomian masyarakat.

IPM Membaik, tapi Tantangan Kemiskinan Masih Besar

Di tengah persoalan tersebut, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Belitung Timur terus meningkat dari 71,91 pada 2021 menjadi 73,99 pada 2025. Perbaikan pada dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup ini berjalan berdampingan dengan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran.

Situasi ini menjadi pesan penting bagi pemerintah daerah bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya PDRB. Ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya juga mencakup kemampuan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkecil kesenjangan.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: suarabangka.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top