KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Spyker punya sejarah yang jungkir balik. Perusahaan yang berdiri tahun 1880 sebagai pembuat kereta kuda ini sempat bangkrut pada 1926, lalu dihidupkan lagi tahun 1999 dengan fokus pada supercar mid-engine. Nasibnya tak pernah mulus—mereka kembali mengajukan kebangkrutan pada 2021. Tapi di Monterey Car Week, merek Belanda ini muncul lagi dengan C8 Preliator XXV Coupé, yang mereka sebut sebagai iterasi terakhir dari supercar V-8 mereka.
Klaim "entirely new automobile" dari Spyker perlu disikapi dengan skeptis. Secara visual, C8 Preliator XXV nyaris identik dengan generasi ketiga yang meluncur pada 2016. Tapi untuk penggemar Spyker, itu justru kabar baik—desainnya tetap khas dan tidak pasaran.
Setiap panel bodi aluminium dibentuk manual, dan Spyker mengklaim satu unit butuh 800 jam pengerjaan. Angka itu masuk akal kalau melihat detailnya: aksen rose gold mengilap di sekujur body, grille depan-belakang dengan mesh rumit, dan saluran NACA yang diukir di bumper depan serta fender belakang.
Lampu belakangnya meniru afterburner jet tempur, dan LED di lampu depan membentuk angka "XXV". Perubahan paling jelas dari Preliator lama adalah tail fin baru yang menyembul dari belakang scoop atap—sentuhan yang memperkuat nuansa aviasi yang selalu jadi ciri khas Spyker.
Spyker tidak pernah meracik mesin sendiri. C8 pertama tahun 2000 memakai V-8 naturally aspirated yang tenaganya cuma sekitar setengah dari model ini. Kini mereka meminjam twin-turbo 4.0-liter V-8 dari Audi yang menghasilkan 789 hp dan 737 lb-ft torsi—angka yang membuatnya masuk jajaran supercar modern yang serius.
Tenaga itu disalurkan ke roda belakang melalui transmisi manual enam percepatan. Di era di mana hampir semua hypercar sudah otomatis atau dual-clutch, keputusan Spyker mempertahankan manual adalah pernyataan tegas. Klaim akselerasi 0-100 km/jam dalam 2,9 detik dan top speed di atas 350 km/jam.
Berat kosong tercatat hanya 1.427 kg—angka yang impresif untuk mobil dengan mesin V-8 besar di tengah. Suspensi memakai double wishbone di keempat sudut, dengan rem Brembo empat-piston di depan (cakram 15 inci) dan belakang (14 inci).
Ini bukan mobil dengan aerodinamika aktif atau teknologi sasis adaptif. Spyker tetap setia pada pendekatan old-school: bobot ringan, mesin besar, dan pengemudi yang harus bekerja.
Di dalam kabin, tidak ada layar sentuh atau infotainment modern. Dashboard aluminium dihiasi analog gauge, tombol fisik, dan sakelar. Satu-satunya display digital adalah head-up unit. Kulit jok memakai warna Tuscan Saddle dengan pola quilted tebal, dan aksen rose gold kembali muncul di berbagai sudut.
Yang paling ikonik: linkage transmisi yang terekspos, mekanisme bergaya penerbangan yang sudah jadi ciri khas C8 sejak awal. Ini bukan mobil untuk orang yang butuh konektivitas smartphone—ini mobil untuk orang yang menikmati ritual mengemudi.
C8 Preliator XXV adalah mobil yang sulit dinilai secara objektif. Secara performa, 789 hp dengan manual enam percepatan adalah kombinasi yang membuat penggemar mobil tua tersenyum. Tapi secara rasional, ada banyak supercar lain di harga yang sama dengan teknologi lebih modern, dukungan purna jual lebih baik, dan nilai jual kembali lebih stabil.
Mobil ini cocok untuk kolektor yang menghargai pengerjaan tangan, sejarah merek, dan kelangkaan ekstrem. Kalau kamu mencari supercar untuk dipakai harian atau investasi yang aman, ada pilihan yang jauh lebih masuk akal. Tapi kalau kamu ingin sesuatu yang tidak akan kamu lihat di parkiran mal mana pun, Spyker C8 Preliator XXV adalah jawabannya.