KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Ekspansi ini bukan sekadar investasi modal. China membawa serta teknologi dan sistem pengelolaan energi ke kawasan yang tengah mempercepat transisi energi tersebut. Dari Brasil hingga Argentina, perusahaan-perusahaan pelat merah China kini memegang peran kunci dalam infrastruktur listrik yang melayani jutaan penduduk.
Salah satu proyek terbesar berada di Brasil. State Grid Corporation of China membangun jalur transmisi Belo Monte Tahap II sepanjang 2.534 kilometer. Jaringan ini menghubungkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di wilayah utara Brasil dengan pusat kebutuhan listrik di tenggara, termasuk Rio de Janeiro.
Proyek senilai miliaran dolar ini digarap berdasarkan konsesi selama 30 tahun—dari investasi, pembangunan, hingga operasional. Insinyur senior State Grid Energy Research Institute, Ye Xiaoning, menjelaskan proyek ini menjawab masalah klasik Brasil: sumber energi yang jauh dari pusat konsumsi.
"Proyek besar ini memastikan pasokan listrik yang sangat stabil dan andal bagi kawasan ekonomi utama Brasil," kata Ye, seperti dikutip China Daily.
Di Argentina, China menggarap proyek tenaga surya Cauchari yang berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter di Pegunungan Andes. Dengan kapasitas 315 megawatt dan lebih dari 1,2 juta panel surya, Cauchari menjadi salah satu pembangkit listrik tenaga surya tunggal terbesar di Amerika Selatan sekaligus taman surya dengan lokasi tertinggi di dunia.
Dampaknya langsung terasa bagi Provinsi Jujuy. Wilayah yang sebelumnya bergantung pada pasokan listrik dari provinsi lain kini mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
China Three Gorges (CTG) mengambil langkah berbeda di Brasil. Perusahaan itu mengambil alih pengoperasian PLTA Jupia dan Ilha Solteira melalui transaksi senilai 3,7 miliar dolar AS atau setara Rp 59,2 triliun (kurs Rp 16.000), dengan masa konsesi 30 tahun.
Dua pembangkit itu memiliki kapasitas gabungan hampir 5 juta kilowatt dan memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 6 juta orang setiap tahun. CTG kemudian memperbarui peralatan mekanis yang telah beroperasi hampir setengah abad menjadi sistem pemantauan digital pada 12 unit pembangkit.
Kerja sama energi China dan Amerika Latin kini masuk agenda resmi kedua pemerintah. Presiden China Xi Jinping mendorong penguatan kerja sama di sektor energi, mineral, dan energi bersih melalui kerangka Belt and Road. Wakil Direktur Administrasi Energi Nasional China, Ren Jingdong, menyebut energi terbarukan sebagai bidang baru yang menjanjikan.
"Kerja sama energi baru telah menjadi salah satu sorotan dan penggerak baru dalam kerja sama energi China-Amerika Latin," kata Ren.
Seiring semakin banyak negara Amerika Latin mempercepat transisi energi, perusahaan China diperkirakan memperluas keterlibatan melalui manufaktur lokal, riset bersama, dan pembiayaan hijau. Ye menambahkan, teknologi jaringan dan pembangkit listrik China dapat membantu negara berkembang menekan emisi sambil menjaga pasokan listrik tetap stabil dan mandiri.