BPBD Bangka Belitung Bangun Embung Baru untuk Antisipasi Karhutla, Manfaatkan Kolong Bekas Tambang Timah

Penulis: Hendrizal Satria  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 12:02:01 WIB
BPBD Babel memanfaatkan kolong bekas tambang timah untuk embung cadangan air antisipasi karhutla.

PANGKALPINANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tengah memetakan kolong-kolong bekas tambang timah untuk dijadikan embung cadangan air. Langkah ini merupakan bagian dari strategi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi meningkat pada musim kemarau ekstrem tahun ini.

Mengapa Kolong Bekas Tambang Jadi Solusi?

Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Babel, Budi Utama, mengungkapkan bahwa air di embung milik BPBD saat ini sudah mengalami penyusutan signifikan. Kondisi ini mendorong pihaknya untuk mencari sumber air alternatif.

"Saat ini kami sedang mencari kolong-kolong bekas tambang timah, agar bisa dijadikan sebagai embung cadangan air penanganan bencana kebakaran, khususnya karhutla, selama musim kemarau panjang ini," kata Budi Utama di Pangkalpinang, Kamis.

Kolong bekas tambang dinilai strategis karena umumnya memiliki volume air yang besar dan tersebar di berbagai wilayah, termasuk di daerah rawan kebakaran yang sulit dijangkau mobil pemadam.

Wilayah Prioritas: Empat Daerah Paling Rawan

Kepala BMKG Kepulauan Babel, Eko Sulistyo Nugroho, memaparkan hasil pemetaan spasial prediksi curah hujan periode Juni hingga November 2026. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September 2026.

"Selama puncak musim kemarau ini wilayah prioritas kekeringan terkonsentrasi di Bangka Barat bagian barat, Bangka Selatan, Belitung bagian barat, dan Belitung Timur bagian timur," jelas Eko.

Wilayah-wilayah itu diperkirakan menerima curah hujan lebih rendah dibandingkan daerah lain di provinsi tersebut. Artinya, potensi karhutla di sana sangat besar.

Embung Vital untuk Lahan Gambut dan Akses Sulit

Menurut Budi, keberadaan embung sangat vital untuk mempercepat penanganan kebakaran, terutama di lahan gambut atau kawasan hutan yang sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran. Tanpa sumber air yang dekat, api bisa meluas sebelum petugas tiba.

"Keberadaan embung sangat vital dalam mempercepat penanganan kebakaran. Apalagi BMKG memperkirakan kemarau tahun ini lebih kering dan panjang sehingga potensi kebakaran serta kekeringan sangat besar terjadi di daerah ini," ujarnya.

Pembangunan embung baru ini diharapkan rampung sebelum memasuki puncak musim kemarau. BPBD juga akan mengoptimalkan embung yang sudah ada dengan melakukan pengerukan sedimentasi agar kapasitas tampungnya kembali maksimal.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: babel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top