KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih berlanjut pada awal Juni 2026. Berdasarkan data pasar yang dihimpun hingga pukul 09.38 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 17.864 per dollar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini terjadi meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan ke level 6.217 pada sesi yang sama.
Fenomena ini menarik karena biasanya pelemahan kurs berdampak negatif pada IHSG, terutama terhadap saham-saham yang memiliki utang dollar signifikan atau bisnis impor. Namun, pagi ini pasar saham seolah bergerak sendiri, mengabaikan tekanan di pasar valuta asing.
Bagi pelaku bisnis yang membutuhkan valas hari ini, selisih antara kurs jual dan kurs beli di perbankan nasional cukup lebar. Berikut rincian kurs dollar AS di Bank Mandiri, BCA, dan BNI per pukul 09.38 WIB:
Bank Mandiri (BMRI) menawarkan dua kategori kurs. Untuk transaksi di atas ekuivalen USD 25.000 (special rate), kurs beli di angka Rp 17.865 dan kurs jual Rp 17.895 per dollar AS. Sementara untuk transaksi reguler melalui TT Counter, Mandiri membanderol kurs beli Rp 17.640 dan kurs jual Rp 17.940—selisihnya mencapai Rp 300 per dollar.
Bank BCA mencatat kurs e-Rate untuk transaksi digital di level beli Rp 17.878 dan jual Rp 17.898 per dollar AS. Adapun transaksi tunai melalui bank notes dan TT Counter, BCA memasang harga beli Rp 17.690 dan jual Rp 17.940.
Bank BNI menetapkan kurs beli di level Rp 17.625 untuk bank notes dan Rp 17.640 untuk TT Counter. Sementara kurs jual di BNI berada di angka Rp 17.925 (bank notes) dan Rp 17.940 (TT Counter).
Catatan penting: kurs khusus untuk nominal transaksi besar di atas USD 25.000 dapat berbeda dan nasabah disarankan menghubungi cabang masing-masing bank untuk mendapatkan kepastian harga.
Bagi importir yang harus membayar faktur dalam dollar AS, kurs jual di atas Rp 17.900 berarti biaya pengadaan barang semakin mahal. Sebaliknya, eksportir yang menerima pembayaran dollar akan mendapatkan rupiah lebih banyak saat menjual valasnya ke bank—kurs beli di kisaran Rp 17.600-Rp 17.800 memberi keuntungan tambahan dibandingkan pekan lalu.
Bagi investor ritel yang rutin bertransaksi valas melalui mobile banking, e-Rate BCA di level Rp 17.878 (beli) dan Rp 17.898 (jual) bisa menjadi acuan paling efisien karena spread-nya hanya Rp 20 per dollar. Namun, untuk transaksi tunai dalam jumlah kecil, spread di TT Counter dan bank notes bisa mencapai Rp 250-Rp 300 per dollar.
Penguatan IHSG di tengah pelemahan rupiah mengindikasikan bahwa investor asing mungkin belum melakukan aksi jual besar-besaran hari ini. Atau, aksi beli di sektor-sektor tertentu seperti komoditas atau perbankan masih cukup kuat menahan tekanan dari kurs. Investor perlu mencermati data net buy atau net sell asing pada penutupan sesi nanti untuk melihat apakah divergen ini bersifat sementara atau menjadi pola baru.