MENTOK — Polres Bangka Barat tidak hanya mengandalkan penyuluhan massal untuk menekan angka kebakaran hutan dan lahan. Kapolres Bangka Barat AKBP Helen Simanjuntak telah menerbitkan perintah kepada seluruh personel bhabinkamtibmas di desa dan kelurahan untuk turun langsung mendatangi rumah-rumah warga, menyusul tingginya potensi kebakaran di musim kemarau kering.
"Saat ini kita sedang mengalami musim kemarau kering dampak dari El Nino, kondisi seperti ini mengakibatkan banyak tanaman liar mengering dan sangat rawan terbakar," kata Helen Simanjuntak di Mentok, Selasa.
Dua Tugas Utama Personel di Lapangan
Kunjungan langsung ini bukan sekadar formalitas. Ada dua pesan kunci yang disampaikan kepada warga. Pertama, personel diminta menjelaskan secara rinci potensi sumber api yang sering memicu kebakaran. Kedua, mereka memberikan panduan praktis tindakan pencegahan agar warga terhindar dari risiko hukum dan kerugian materi.
Kepala Seksi Humas Polres Bangka Barat Iptu Yos Sudarso menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari upaya kepolisian mengedepankan deteksi dini. "Kami mengajak masyarakat bersama-sama mencegah karhutla, dengan cara seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dalam kondisi cuaca kering api dapat dengan mudah menyebar dan sulit dikendalikan," ujarnya.
Kelalaian Manusia Jadi Pemicu Dominan
Polisi mengidentifikasi beberapa kebiasaan warga yang berpotensi memicu bencana. Membakar sampah di dekat bahan mudah terbakar tanpa pengawasan, serta membuang puntung rokok sembarangan menjadi dua faktor utama yang kerap ditemukan di lapangan.
"Peran masyarakat penting untuk pencegahan karena selama ini sebagian besar kejadian karhutla disebabkan faktor keteledoran manusia," kata Yos Sudarso.
Ia menambahkan, jika warga menemukan indikasi pembakaran lahan, laporan dapat segera disampaikan melalui hotline 110 atau langsung ke bhabinkamtibmas setempat untuk ditindaklanjuti.
61 Titik Api di Mentok Sepanjang 2026
Data dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Bangka Barat menunjukkan pola karhutla yang fluktuatif. Juli menjadi bulan terparah dengan 22 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 15 hektare. Sementara itu, Mei tercatat sebagai bulan paling rendah dengan dua kejadian seluas 2,5 hektare.
Rincian kejadian per bulan: Januari lima kasus (enam hektare), Februari tujuh kejadian (5,75 hektare), Maret 10 kejadian (8,3 hektare), April lima kejadian (6,5 hektare), Juni empat kejadian (3,3 hektare), dan Agustus enam kasus dengan luas 9,5 hektare.
Edukasi dari Pintu ke Pintu Mulai Berjalan
Perintah tersebut telah ditindaklanjuti di lapangan. Aiptu Irwan, bhabinkamtibmas Kelurahan Keranggan, misalnya, telah melakukan penyuluhan dengan pola door-to-door di wilayah tugasnya. Kedatangannya ke tengah warga dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama pertukaran informasi kamtibmas.
"Selain menyampaikan berbagai informasi penting untuk mencegah karhutla, kedatangan kami di tengah warga juga untuk menguatkan kerja sama agar lebih mudah dalam melakukan pencegahan dan berbagi informasi terkait kamtibmas di tengah masyarakat," kata Irwan.