MENTOK — Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, mengatakan pihaknya tengah mendorong perubahan paradigma masyarakat terhadap fungsi perpustakaan. Selama ini, kata dia, banyak warga menganggap perpustakaan hanya sebagai tempat penyedia buku.
"Dengan adanya Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, kita ingin mengubah paradigma itu dengan memberikan berbagai kegiatan yang bisa memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakat," ujar Farouk di Mentok, Rabu.
Literasi Bukan Sekadar Baca-Tulis
Menurut Farouk, tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini membutuhkan pemahaman literasi yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa kemampuan membaca dan menulis saja tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan hidup masa kini dan masa depan.
Untuk menjawab tantangan itu, Perpustakaan Daerah Bangka Barat meluncurkan program bernama Lingkaran Literasi Inklusi Sosial untuk Kesejahteraan (Lilis Sejahtera). Program ini lahir dari kenyataan bahwa tingkat literasi masyarakat masih rendah, berbanding lurus dengan keterbatasan akses informasi, partisipasi sosial yang minim, dan lemahnya kemandirian ekonomi.
Warga Bisa Belajar Usaha hingga Ikut Kejar Paket
Berbagai pola dikembangkan dalam Program Lilis Sejahtera. Perpustakaan tidak lagi menjadi ruang sunyi, melainkan ruang belajar yang hidup. Masyarakat datang bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga untuk belajar membuat produk usaha, mengikuti pelatihan komputer, hingga mengembangkan keterampilan praktis berdasarkan informasi dari koleksi buku yang ada.
"Dalam hal ini kita menghadirkan perpustakaan tidak lagi sekadar tempat membaca, tetapi menjadi ruang belajar yang hidup," kata Farouk.
Perpustakaan juga menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang beroperasi di lingkungan perpustakaan. Layanan ini membuka peluang bagi warga yang belum mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal untuk mengikuti program kesetaraan.
Target 20 Desa pada Tahun Ini
Farouk menyebut, program serupa akan direalisasikan di 20 desa di Bangka Barat pada tahun ini. Keberadaan PKBM di perpustakaan desa diharapkan mampu menjadikan literasi sebagai jembatan perubahan nyata bagi kemajuan pendidikan di daerah.
"Ketika literasi dikelola secara inklusif dan diarahkan pada pemberdayaan, maka hasilnya bukan hanya masyarakat menjadi lebih cerdas, tetapi juga akan memberikan dampak pada kemandirian dan kesejahteraan," ujarnya.
Farouk menambahkan, langkah-langkah sederhana yang dijalankan melalui Program Lilis Sejahtera diyakini akan berdampak pada peningkatan kecerdasan masyarakat dan memberikan perubahan nyata pada kesejahteraan warga Bangka Barat.