KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan laba bersih US$ 161 juta pada sembilan bulan pertama 2026, naik 21,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan laba itu berjalan seiring ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi perseroan yang kini mendekati 1 gigawatt (GW).
Jakarta — Pendapatan BREN ikut menguat 9,5 persen menjadi US$ 501 juta, sementara laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik 10,9 persen ke US$ 442 juta. Perolehan itu menunjukkan mesin utama perseroan, yakni pembangkit listrik tenaga panas bumi, masih mencetak margin sehat di tengah biaya operasional yang menantang.
Tiga indikator utama BREN bergerak searah. Laba bersih US$ 161 juta, pendapatan US$ 501 juta, dan EBITDA US$ 442 juta sama-sama tumbuh dibanding capaian Januari–September tahun lalu.
Pertumbuhan laba 21,8 persen melampaui kenaikan pendapatan 9,5 persen. Artinya, tambahan pendapatan tahun ini dikonversi lebih efisien menjadi laba, bukan sekadar menutup beban.
BREN mempercepat penambahan kapasitas pembangkit panas bumi. Kapasitas terpasang perseroan kini mendekati 1 GW, ambang yang menempatkan BREN sebagai salah satu pemain panas bumi terbesar di Indonesia.
Panas bumi menjadi tulang punggung bisnis BREN sekaligus instrumen pemerintah memenuhi bauran energi baru terbarukan. Kapasitas yang terus bertambah berarti pasokan listrik hijau ke jaringan PLN ikut meningkat.
Indonesia menyimpan cadangan panas bumi terbesar di dunia, namun pemanfaatannya masih jauh di bawah potensi. Setiap megawatt yang masuk jaringan berarti pengurangan ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil.
Bagi BREN, penambahan kapasitas juga memperpanjang durasi kontrak jual beli listrik yang menjadi sumber pendapatan jangka panjang. Model bisnis semacam ini relatif tahan gejolak harga komoditas dibanding pembangkit batu bara.
Kinerja sembilan bulan pertama 2026 menempatkan BREN pada jalur pertumbuhan yang solid. Jika ekspansi kapasitas berjalan sesuai rencana, capaian laba tahun penuh berpeluang melampaui torehan tahun sebelumnya, dengan panas bumi tetap menjadi penopang utama.