JAKARTA — Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani menyatakan rencana penerbitan obligasi Rp 500 miliar masih dalam tahap persiapan. Perusahaan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan kebutuhan pendanaan sebelum menetapkan waktu pelaksanaan.
“BRI Finance terus melihat pasar obligasi sebagai salah satu alternatif pendanaan strategis. Untuk rencana penerbitan pada kuartal IV 2026, kami akan menyesuaikan waktu pelaksanaan dengan kebutuhan funding perusahaan serta kondisi pasar agar dapat dilakukan secara optimal dan prudent,” ujar Dhani.
Rencana obligasi Rp 500 miliar bukan langkah perdana BRI Finance di pasar modal. Perusahaan telah menerbitkan surat utang sebanyak tiga kali dalam empat tahun terakhir.
Rekam jejak tersebut menunjukkan BRI Finance telah memakai pasar modal sebagai sumber pendanaan berulang. Pola ini lazim dipakai perusahaan pembiayaan untuk mendiversifikasi sumber dana di luar pinjaman bank.
BRI Finance menyebut penerbitan obligasi bertujuan memperkuat struktur pendanaan. Dana segar dibutuhkan untuk menopang ekspansi bisnis pembiayaan yang menuntut ketersediaan modal kerja.
Perusahaan belum merinci sektor pembiayaan mana yang akan digenjot dari hasil obligasi nanti. Begitu pula dengan target pertumbuhan piutang yang ingin dicapai.
Yang jelas, keputusan final tetap menunggu kondisi pasar. Suku bunga dan minat investor menjadi dua faktor yang disebut perusahaan dalam menentukan jadwal penerbitan.
Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 menjadi penerbitan terakhir BRI Finance. Skema berkelanjutan memungkinkan perusahaan menerbitkan obligasi dalam beberapa tahap tanpa perlu proses penawaran umum baru dari awal.
Rencana Rp 500 miliar pada kuartal IV 2026 dapat menjadi kelanjutan skema tersebut. Namun perusahaan belum memastikan apakah penerbitan nanti masuk dalam program obligasi berkelanjutan yang sama.
BRI Finance juga belum mengungkap peringkat obligasi, tenor, maupun kupon yang ditawarkan. Informasi itu biasanya menyusul saat proses penawaran resmi dimulai.