TOBOALI — SMAN 3 Toboali menggelar puncak Gebyar Bulan Bahasa dengan menghadirkan Duta Baca Indonesia Gol A Gong pada Jumat (30/10/2026). Seminar literasi itu diikuti ratusan peserta dan menjadi penutup rangkaian kegiatan bulan bahasa di sekolah tersebut.
Kehadiran penulis bernama asli Heri Hendrayana Haris itu disambut antusias. Orasi yang ia sampaikan langsung dibalas tepuk tangan peserta yang memenuhi ruangan seminar.
Kepala SMAN 3 Toboali Elya Rosda menyebut lokasi sekolah yang berada jauh dari pusat kota tidak menyurutkan semangat guru dan siswa untuk berliterasi. Ia menegaskan kegiatan membaca dan menulis tetap berjalan di sekolahnya.
"Sekolah kita memang berada jauh dari pusat kota. Namun semangat berliterasi kita tetap menyala," ungkap Elya Rosda yang telah menulis satu buku ini.
Menurutnya, Gebyar Bulan Bahasa menjadi salah satu cara sekolah menjaga tradisi literasi tetap hidup. Kegiatan itu juga memberi ruang bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan penulis nasional.
Gol A Gong mengapresiasi semangat literasi yang ditunjukkan warga SMAN 3 Toboali. Penulis yang telah menghasilkan 300 buku itu menilai sekolah tersebut bisa menjadi penggerak literasi di Bangka Selatan.
"Titik gempa literasi Bangka Selatan dimulai dari SMAN 3 Toboali," kata Gong di hadapan peserta seminar.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan ratusan peserta. Gong juga membagikan pengalaman hidupnya sebagai bahan renungan bagi para siswa.
Di depan peserta, Gong menceritakan bahwa tangannya harus diamputasi saat ia masih duduk di kelas 4 SD. Kondisi itu tidak menghentikannya untuk terus belajar dan menulis hingga kini.
Dukungan kedua orang tua menjadi penopang utama pada masa-masa sulit itu. Gong mengingat pesan yang terus ia pegang hingga dewasa.
"Kamu boleh kehilangan tangan tetapi kamu tidak boleh kehilangan cita-cita," ujar Gong menirukan pesan orang tuanya.
Selama tujuh tahun, Gong mengaku digembleng dengan disiplin oleh keluarganya. Rutinitas itu meliputi olahraga lari setelah salat Subuh, membaca, bermain badminton, serta mendengarkan tausiyah ibunya sebelum tidur.
Kebiasaan tersebut membentuk karakter dan kemampuan menulisnya. Kini ia dikenal sebagai penulis produktif dengan 300 buku dan dipercaya sebagai Duta Baca Indonesia.
Seminar literasi menjadi bagian dari puncak Gebyar Bulan Bahasa SMAN 3 Toboali. Kegiatan itu menghadirkan penulis nasional agar siswa mendapat pengalaman belajar langsung dari praktisi.
Elya Rosda berharap kegiatan semacam ini bisa berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Menurutnya, kehadiran tokoh literasi nasional memberi dorongan tersendiri bagi siswa untuk menulis dan membaca.
Bagi warga sekolah, sebutan titik gempa literasi dari Duta Baca Indonesia menjadi pemicu untuk memperluas kegiatan literasi. Bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di kampung-kampung sekitar Toboali.