PANGKALPINANG — Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Babel, Regi Yoga Pratama, menyebut perairan Teluk Kelabat Dalam sebagai salah satu kawasan perairan penting di Bangka Belitung yang menjadi sumber penghidupan nelayan dan masyarakat pesisir. Aktivitas pertambangan timah di kawasan itu memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekosistem laut, hasil tangkapan nelayan, serta keberlanjutan sumber daya pesisir.
Regi menegaskan persoalan ini tidak berhenti pada aktivitas pertambangan semata. Menurutnya, ada hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta keberlangsungan mata pencaharian, yang turut dipertaruhkan.
"Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertambangan, tetapi juga menyangkut hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat serta keberlangsungan mata pencaharian mereka," ujar Regi, Jumat (16/10/2026).
Melalui forum tersebut, WALHI dan ICW akan mengangkat persoalan pertanggungjawaban atas dampak pertambangan. Tuntutan keadilan bagi masyarakat terdampak juga menjadi agenda utama, bersama langkah pemulihan lingkungan yang dinilai diperlukan.
Judul webinar menempatkan persoalan Teluk Kelabat Dalam dalam konteks upaya mencari pertanggungjawaban melalui jalur hukum. Pendekatan ini dipilih agar penanganan tidak berhenti pada perdebatan mengenai aktivitas pertambangan.
"Pemulihan lingkungan menjadi bagian penting agar penanganan persoalan tidak berhenti pada perdebatan mengenai aktivitas pertambangan, tetapi juga menyentuh kondisi ekosistem dan kehidupan masyarakat pesisir," katanya.
Diskusi ini diharapkan memperluas perhatian publik terhadap persoalan pertambangan timah di Teluk Kelabat Dalam. Perhatian itu sekaligus mendorong upaya perlindungan ruang hidup nelayan dan pemulihan lingkungan di Bangka Belitung.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar kawasan perairan. Keberlangsungan hidup mereka bergantung pada kondisi ekosistem di dalamnya.
"Karena itu, upaya menagih keadilan lingkungan perlu berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat dan pemulihan kawasan yang terdampak," jelasnya.
Webinar tersedia melalui kode QR pada poster kegiatan bagi peserta yang ingin mengikuti sesi Zoom. Siaran langsung di kanal YouTube WALHI Nasional serta ICW menjadi jalur alternatif bagi publik yang ingin menyimak diskusi.