KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Maye Musk mengungkapkan bahwa putranya, Elon Musk, berencana tinggal menetap di Kota Mars dalam beberapa dekade mendatang. Ibunda pendiri SpaceX itu menceritakan hal tersebut dalam podcast Power Players with Brian Sozzi, seraya mengenang kebiasaan sang anak yang kerap menyampaikan gagasan di luar kebiasaan. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan peluncuran memoar terbarunya yang mengisahkan perjalanan hidup dan kariernya.
"Saya pikir dia benar-benar ingin tinggal di kota Mars. Itulah yang dia katakan," ujar Maye Musk, dikutip dari Yahoo! Finance.
Maye Musk mengenang percakapan ketika Elon menyampaikan rencana meluncurkan satelit ke luar angkasa. Ia awalnya bertanya mengapa anaknya ingin melakukan hal itu. Elon, menurut Maye, menjelaskan bahwa orang yang terjebak di tengah samudra, hutan, atau puncak bukit dalam kondisi terluka bisa meninggal karena tidak mampu menghubungi siapa pun.
"Saat dia berkata kepada saya, 'Saya akan meluncurkan satelit ke luar angkasa', dan saya bertanya mengapa, dia menjawab, 'Jika kamu terjebak di tengah samudra, di tengah hutan, atau di puncak bukit dalam keadaan terluka dan tidak bisa menghubungi siapa pun, maka kamu akan meninggal.' Jadi, dia ingin mencegah hal itu terjadi," tutur Maye Musk.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara Elon membingkai proyek antariksa sebagai solusi konektivitas, bukan semata ekspansi ke planet lain. SpaceX sendiri selama ini dikenal lewat ambisi membangun transportasi antariksa berbiaya rendah, termasuk rencana misi berawak ke Mars.
Maye Musk merilis memoar berjudul "Timeless: The Art of Reinvention and Resilience at Any Age". Buku itu mengisahkan kesulitan pribadi dan perubahan kariernya, termasuk saat masih berprofesi sebagai ahli gizi.
Dalam memoar tersebut, ia merinci pengalaman menghadapi ketidakstabilan finansial setelah meninggalkan pernikahan yang penuh kekerasan dengan Errol Musk. Ia membesarkan tiga anaknya, Elon, Kimball, dan Tosca, sebagai orang tua tunggal yang bekerja.
Karier modeling Maye dimulai pada usia 15 tahun di Afrika Selatan. Ia menyeimbangkan pekerjaan sebagai model iklan cetak dengan studinya hingga meraih dua gelar master di bidang dietetika dan ilmu gizi. Setelah berpisah dari Errol, ia membangun praktik konsultasi gizi pribadi sambil mengasuh ketiga anaknya.
Alih-alih meredup seiring bertambahnya usia, karier modeling Maye justru melesat dan dikenal secara global setelah ia menginjak usia 60 tahun. Keputusannya tampil dengan rambut perak alami membuat namanya makin dikenal di industri fesyen internasional.
Maye Musk menilai publik sering tidak memahami Elon. Ia kerap menggunakan platform X untuk membela putranya ketika menghadapi kritik. Menurutnya, reaksi keras terhadap kritik adalah hal wajar bagi seorang ibu.
"Jika Anda memiliki anak dan ada orang yang menghina mereka saat mereka sedang melakukan hal-hal baik, Anda pasti akan bereaksi sangat keras terhadap orang tersebut," tuturnya.
"Saya berusaha bersikap sebaik mungkin, tetapi jangan coba-coba menghina anak-anak saya," tegas Maye Musk.
Pernyataan Maye menambah gambaran tentang sosok Elon Musk di balik sejumlah perusahaan yang ia pimpin, mulai dari Tesla hingga SpaceX. Bagi pengamat industri teknologi, narasi soal ambisi Mars ini tetap relevan karena menjadi salah satu fondasi jangka panjang proyek antariksa swasta yang tengah berjalan.