Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, serius mengembangkan kain Cual Mentok agar tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi warga. Wakil Bupati Bangka Barat Yus Derahman menyebut pelatihan keterampilan dan penyediaan alat tenun bagi perajin menjadi salah satu wujud keseriusan itu.
MENTOK — Pemkab Bangka Barat tidak ingin kain Cual Mentok berhenti sebagai koleksi museum atau hanya dipakai pada acara formal. Sejumlah langkah nyata tengah digenjot, mulai dari pelatihan perajin, penyediaan alat tenun, hingga pertunjukan seni, agar warisan budaya itu tetap hidup dan berdampak pada ekonomi masyarakat.
Wakil Bupati Bangka Barat Yus Derahman mengatakan, kain Cual Mentok memiliki sejarah panjang yang melekat pada perkembangan Kota Mentok, di ujung barat Pulau Bangka. Menurutnya, kekayaan motif dan identitas budaya lokal itu terus digali dan dilestarikan agar memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
Perhatian khusus diberikan kepada para perajin, baik yang menekuni tenun maupun batik. Pemkab Bangka Barat bersama sejumlah pihak terkait menggelar berbagai pelatihan keterampilan, penyediaan alat tenun, pendampingan manajemen usaha, serta penguatan jejaring pemasaran.
"Kami ingin perajin lebih mandiri dan mampu bersaing," ujar Yus Derahman di Mentok, Senin. Ia mencontohkan, langkah ini ditempuh agar produk kain cual bisa menjangkau pasar lebih luas, tidak hanya terbatas pada konsumen lokal.
Salah satu upaya yang baru dilakukan adalah pertunjukan seni bertajuk "Tafsir Perjalanan dan Asa Kain Cual". Kegiatan yang melibatkan puluhan pelaku seni itu menjadi ruang bagi kain cual untuk tampil sebagai identitas budaya yang hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
"Kemarin kita juga menggelar kegiatan pertunjukan seni, ini sebuah pertunjukan yang dikemas cukup menarik dan melibatkan banyak pihak. Kain Cual Mentok perlu terus diberikan ruang untuk tampil sebagai identitas budaya yang hidup dan terus berkembang," kata Yus Derahman.
Menurut Yus Derahman, kain cual tidak bisa dipandang hanya sebagai produk tekstil dengan motif khas. Setiap corak dan proses pembuatannya menyimpan perjalanan sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
"Kita tidak ingin kain Cual berhenti sebagai koleksi museum atau hanya dikenakan pada acara-acara formal. Kain cual harus terus hidup, berkembang, beradaptasi dan berinovasi di tengah modernisasi, tanpa kehilangan ruh dan nilai budayanya," tegasnya.
Pemkab Bangka Barat, lanjut dia, optimistis sinergi antara kesenian dan kebudayaan akan memperkuat sektor budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata daerah. Hal ini menjadi modal kekuatan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.