Baterai Nusantara: Indonesia-Malaysia Kolaborasi Produksi Sel Baterai EV, BRIN Ungkap Peran Masing-Masing

Penulis: Hendrizal Satria  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:37:01 WIB
Indonesia dan Malaysia resmi menjalin kolaborasi produksi sel baterai kendaraan listrik melalui proyek Baterai Nusantara.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Langkah ini bukan sekadar proyek simbolis. Profesor Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah upaya strategis agar ASEAN tidak selamanya menjadi pasar impor.

"Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri," ungkap Evvy kepada Antara.

Pembagian Peran: Katoda dari Indonesia, Sel dari Malaysia

Skema kerja sama ini memanfaatkan keunggulan geografis dan infrastruktur masing-masing negara. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya mineralnya, akan berkontribusi dari sisi hulu, khususnya pengembangan material katoda. Material mentah tersebut kemudian dikirim ke Malaysia untuk diproses menjadi sel baterai jadi di fasilitas pilot yang sudah mereka miliki.

"Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai," jelas Evvy.

Hasil produksi dari kolaborasi ini dikabarkan telah dipamerkan di Malaysia dengan dukungan kementerian terkait. Ini menandakan bahwa kerja sama ini sudah berjalan di tataran teknis, bukan hanya wacana di atas kertas.

Pilot Plant Dalam Negeri: Jembatan yang Masih Hilang

Meski kolaborasi ini berjalan, Evvy menyoroti satu kelemahan struktural yang masih menganga di dalam negeri: Indonesia belum memiliki fasilitas pilot plant sendiri. Padahal, fasilitas ini adalah jembatan krusial antara hasil riset laboratorium dan industrialisasi komersial berskala besar.

"Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana," tambah Evvy.

Tanpa pilot plant, hasil riset BRIN dan universitas akan kesulitan untuk diuji dalam skala yang lebih masif sebelum akhirnya layak masuk jalur produksi massal. Keberadaan fasilitas ini akan memastikan teknologi yang dikembangkan di Indonesia benar-benar matang dan siap bersaing.

Menuju Ekosistem Baterai ASEAN yang Berdikari

Proyek Baterai Nusantara ini lebih dari sekadar mengejar angka output produksi. Misi utamanya adalah mengamankan rantai pasok regional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dengan menyatukan kekuatan riset, ketersediaan material, dan fasilitas manufaktur, ASEAN diharapkan mampu mengubah posisinya dari sekadar basis produksi mobil listrik menjadi pusat pengembangan teknologi baterai yang mandiri.

Tantangan ke depan masih jelas: penguatan riset dan kapasitas produksi di tiap negara harus berjalan paralel. Bagi Indonesia, kehadiran pilot plant dalam negeri bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan posisi tawar dalam ekosistem baterai kawasan tetap kuat.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: uzone.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top