BANGKA — Pemerintah Desa Pangkalbuluh memastikan tidak ada lagi aset desa yang dibiarkan mangkrak tanpa fungsi. Lewat tangan dingin Kepala Desa Marjan, bangunan non-produktif itu disulap menjadi kafe BUMDes yang mulai beroperasi Selasa malam lalu.
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pengoptimalan aset desa agar memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi bangunan mati yang menghabiskan biaya perawatan.
Transformasi ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi bangunan milik desa yang bertahun-tahun tidak difungsikan. Alih-alih membiarkan aset tersebut terbengkalai, Marjan memilih mengambil langkah konkret dengan menggandeng BUMDes sebagai pengelola.
Kafe ini tidak hanya dirancang sebagai tempat nongkrong, tetapi juga ruang interaksi sosial yang diharapkan mampu menghidupkan aktivitas ekonomi warga di malam hari.
"Pemanfaatan aset desa tersebut dilakukan agar bangunan yang selama ini tidak difungsikan dapat menjadi aset produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujar Marjan kepada awak media.
Pemilihan konsep kafe bukan tanpa perhitungan. Desa Pangkalbuluh menilai bisnis kuliner dan ruang publik memiliki prospek yang menjanjikan, terutama untuk menarik minat anak muda dan membuka lapangan kerja baru di tingkat desa.
Keberadaan kafe ini juga diharapkan menjadi daya tarik tersendiri yang membuat warga tidak perlu jauh-jauh keluar desa hanya untuk sekadar berkumpul atau menikmati hidangan.
Dengan pengelolaan yang profesional oleh BUMDes, keuntungan dari operasional kafe nantinya akan kembali mengalir ke kas desa. Pendapatan asli desa (PADes) yang meningkat bisa digunakan untuk membiayai program pembangunan dan kesejahteraan masyarakat lainnya.
Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana pemerintah desa bisa lebih jeli dalam membaca potensi aset yang dimiliki. Alih-alih menunggu anggaran besar, kreativitas dan keberanian mengambil keputusan menjadi kunci utama perubahan.
Ke depan, pengelolaan kafe BUMDes Pangkalbuluh akan terus dievaluasi agar pelayanannya semakin baik dan mampu bersaing dengan usaha sejenis di luar desa.
Keberhasilan model ini berpotensi direplikasi oleh desa-desa lain di Bangka Belitung yang memiliki aset serupa namun belum tergarap maksimal.