PANGKALPINANG — Intensitas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menunjukkan tren mengkhawatirkan sepanjang bulan Juli 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Babel mencatat total luas lahan yang terbakar telah mencapai 194,2 hektar, dengan wilayah Pulau Belitung menjadi penyumbang kejadian terbesar.
Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Babel, Hardiansyah, mengungkapkan bahwa laporan kejadian kebakaran lahan hampir diterima setiap hari dari BPBD tingkat kabupaten dan kota. Kondisi cuaca panas ekstrem yang disertai angin kencang disebut menjadi pemicu utama meluasnya api.
"Sejak awal Juli hingga saat ini, kondisi cuaca panas dan angin kencang membuat Karhutla sangat rawan di Provinsi Bangka Belitung. Setiap hari selalu ada laporan lahan terbakar dengan luasan mulai dari 1 hektar hingga 5 hektar," ujar Hardiansyah pada Senin (3/8).
Berbeda dengan wilayah lain yang kebakaran biasanya terjadi pada siang atau sore hari, Karhutla di Pulau Belitung bahkan terjadi hingga malam hari. Petugas gabungan harus bekerja ekstra untuk memastikan api tidak meluas ke area permukiman warga.
"Karhutla di Babel ini terjadi bukan hanya siang atau sore hari, malam pun terjadi. Namun, semua berhasil dipadamkan sehingga tidak terus meluas," terangnya.
Meskipun secara akumulatif luasan lahan terbakar di Babel tidak sebesar wilayah lain di Pulau Sumatera, angka 194,2 hektar dinilai menunjukkan tingkat kerawanan yang cukup tinggi. Data BPBD mencatat sebaran kejadian Karhutla didominasi oleh wilayah Pulau Belitung.
Hardiansyah menegaskan bahwa kombinasi suhu udara tinggi dan embusan angin membuat api cepat menjalar. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya lahan gambut dan semak belukar kering yang mudah terbakar.
Menyikapi kondisi cuaca yang tidak menentu, BPBD Babel mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api. Larangan membuka lahan dengan cara membakar menjadi perhatian utama pihaknya.
"Dalam kondisi cuaca seperti sekarang, kami mengimbau warga jangan membakar sampah sembarangan dan jangan membuang puntung rokok yang masih menyala. Kewaspadaan bersama sangat diperlukan untuk mencegah bencana yang lebih besar," pungkas Hardiansyah.
Pihak BPBD juga mengingatkan bahwa dampak Karhutla tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat akibat kabut asap. Warga yang tinggal di dekat area rawan kebakaran diminta segera melapor jika melihat titik api muncul.