PANGKALPINANG — Disperindag Babel tidak hanya sekadar menjembatani, tetapi secara aktif mempertemukan langsung pelaku UMKM dengan calon pembeli di Peru. Kepala Bidang Sarana Perdagangan dan Pengembangan Ekspor Disperindag Babel, Agus Setia Rini, mengatakan bahwa pihaknya menginventarisasi pengusaha yang sudah berpengalaman ekspor maupun yang potensial untuk diajak serta dalam agenda business pitching.
"Kami bersama Kementerian Perdagangan RI dan KBRI Lima, Peru, telah melaksanakan kegiatan mengenalkan produk UMKM unggulan kepada beberapa pihak terkait," ujar Agus di Pangkalpinang, Kamis.
Setidaknya ada tiga pelaku usaha yang disiapkan untuk menggarap pasar Peru. PT Makro Jaya Lestari sudah menjadi pionir eksportir lada untuk pasar Asia dan Eropa sejak lama. Dalam pertemuan itu, mereka mempresentasikan produk lada unggulan jenis FAQ dan Double Wash dengan kapasitas produksi rata-rata mencapai 120 ton per bulan, lengkap dengan sertifikasi impor.
Billiton Spice juga tak kalah siap. Perusahaan ini sudah rutin mengekspor produk lada hitam dengan aroma kuat dan lada putih berkadar piperin di atas lima persen ke Hong Kong dan Belanda. Saat ini, mereka tengah mengembangkan lada hijau—lada muda yang tidak terlalu pedas—serta produk kombinasi lada dengan rempah lainnya.
Satu nama lagi yang menarik perhatian adalah Cultivia Essential Oil. Berbeda dari yang lain, Cultivia mengusung konsep ekonomi sirkular dengan proses produksi yang regeneratif dan organik. Mereka beroperasi di lahan pascatambang kaolin di Pulau Belitung dengan pola tumpang sari lada dan tanaman atsiri. "Cultivia dengan kapasitas produksi 1,2 ton penyulingan menghasilkan 200 kg essensial oil utamanya citronella, cajuput dan lemon grass siap memenuhi kebutuhan buyer," jelas Agus.
Data dari KBRI Lima yang disampaikan Counsellor Fungsi Ekonomi Wahid Fairus Azis menunjukkan bahwa potensi ekspor ke Peru sangat besar. Negara itu mengimpor minyak esensial senilai 1,8 juta dolar AS pada tahun 2025, dan Indonesia tercatat sebagai negara importir terbesar ketujuh. Sementara untuk lada, Peru mengimpor senilai 10,32 juta dolar AS melalui 20 importir, dan kebutuhan diprediksi terus meningkat seiring promosi kuliner.
"KBRI Peru, Kemenlu dan Kemendag melalui program yang dijalankan dapat memberikan dukungan produk UMKM Babel ke Peru," kata Agus, menambahkan bahwa faktor logistik dan transportasi masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi.
Kedua negara juga telah memiliki perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif CEPA yang mulai berlaku pada 2025, yang semakin memuluskan jalan bagi produk UMKM Bangka Belitung untuk bersaing di pasar Amerika Selatan.