JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan pertumbuhan bisnis yang sehat hingga akhir Maret 2026. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, perseroan mengedepankan prinsip prudential banking dan manajemen risiko yang disiplin.
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengungkapkan, rasio likuiditas perusahaan berada jauh di atas ketentuan regulator. Hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio (LDR) BRI tercatat 86,7 persen.
“Menurut kami masih ideal dalam hal mengelola fungsi intermediary, tidak terlalu ketat namun juga cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan,” ujar Achmad Royadi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, pekan lalu.
Dari sisi struktur pendanaan, BRI menunjukkan perbaikan signifikan dalam pengelolaan biaya dana dan komposisi dana murah. Cost of fund berbasis dana pihak ketiga berhasil ditekan dari 3,0 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 2,3 persen pada Triwulan I 2026—turun sebesar 65 basis poin.
Penurunan ini mencerminkan efektivitas strategi BRI dalam mengoptimalkan struktur funding, khususnya melalui peningkatan porsi dana murah. Hal itu sejalan dengan kenaikan rasio CASA dari 65,8 persen di Triwulan I 2025 menjadi 68,1 persen di Triwulan I 2026.
Perbaikan struktur pendanaan ini menjadi sinyal positif bagi nasabah dan pelaku UMKM di daerah, termasuk di Kepulauan Bangka Belitung. Dengan biaya dana yang lebih rendah, BRI memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit dengan suku bunga yang kompetitif.
Rasio LDR yang ideal di angka 86,7 persen juga menunjukkan bahwa fungsi intermediasi bank berjalan optimal—tidak terlalu agresif sehingga berisiko, namun tetap mendorong pertumbuhan kredit ke sektor produktif.
Hingga berita ini diturunkan, BRI belum merilis rincian laba bersih dan kontribusi segmen usaha mikro per daerah. Namun, tren perbaikan likuiditas dan efisiensi biaya dana di awal tahun menjadi modal utama menghadapi sisa tahun 2026.