TANJUNGPANDAN — Pesawat Super Air Jet Nomor 302 yang membawa Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani terpaksa membatalkan pendaratan di Bandara HAS Hananjoeddin, Tanjungpandan. Keputusan itu diambil setelah kondisi cuaca di sekitar bandara dinilai tidak memungkinkan untuk mendarat.
Pesawat lepas landas dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, pukul 15.30 WIB. Sesaat setelah turun dan bersiap mendarat pada pukul 16.10 WIB, pesawat kembali naik.
Dari kokpit, pilot mengumumkan pembatalan pendaratan. Pesawat kemudian dialihkan menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan pendaratan.
Angin Kencang dan Kabut Asap Halangi Pendaratan di Dua Landasan
Pilot menjelaskan bahwa pesawat rencananya mendarat di landasan pacu 36. Namun kecepatan angin yang terlalu kencang membuat pendaratan tidak memungkinkan dilakukan.
"Pesawat rencananya mendarat di landasan pacu 36, namun kondisi kecepatan angin yang terlalu kencang sehingga tidak memungkinkan dilakukan pendaratan," ujar pilot.
Sementara itu, pendaratan di landasan pacu nomor satu juga tidak bisa dilakukan. Penyebabnya, fisibility atau jarak pandang lebih dari 2.000 meter dengan kondisi cuaca asap.
"Sedangkan pendaratan di landasan pacu nomor satu tidak memungkinkan, karena fisibility lebih 2.000 meter dengan kondisi cuaca asap," sambungnya.
Jadwal Boarding Sempat Dua Kali Diundur Sebelum Batal Mendarat
Sebelum penerbangan ini, pesawat dijadwalkan boarding time pada pukul 07.15 WIB. Jadwal itu diundur ke pukul 09.35 WIB dengan alasan cuaca.
Penundaan tidak berhenti di situ. Jadwal tersebut kembali batal lantaran kondisi cuaca belum memungkinkan pesawat lepas landas dari Palembang menuju Depati Amir.
Belum ada keterangan resmi mengenai jadwal penerbangan lanjutan bagi Gubernur Hidayat Arsani dan rombongan setelah pesawat dialihkan ke Jakarta.